free counters


My site is worth $2022.1.
Berapa harga Blog/Web Anda?

WHO KNOWS, WHO IS ACTUALLY THE GREAT AND THE MOST TERRORIST IN THE WORLD ?

Sabtu, 18 Juni 2011

Rapat Pleno Kenaikan Kelas

"Bila nilai siswa kurang dari kriteria minimal yang menyebabkan siswa bisa tidak naik kelas, kita bisa menaikkan dengan memberikan remidi atau tugas tambahan, maka tidak bisakah kita mengurangi jumlah ketidak hadiran (absen) tanpa keterangan yang melebihi kriteria kenaikan dengan merubahnya menjadi "ijin" atau "sakit" misalnya, sehingga siswa kita tidak sampai tinggal kelas ? Dengan sdm siswa kita yang seperti ini, lantas kita menentukan kriteria ketidak hadiran tanpa keterangan (mbolos) dengan maksimal 10% dari hari efektif, sebenarnya merupakan suatu keberanian dan arogansi dari kami sebagai pimpinan. Karena itu di forum ini, masih adakah nurani kita yang tersisa untuk anak didik kita, dengan tidak menghadang jalan kesuksesan mereka ? Di tengah gelora wajib belajar 9 tahun ini ? Perlu Bapak Ibu ketahui, bahwa bila siswa-siswa kita tidak naik kelas, maka ... bisa dipastikan mereka akan keluar (tidak melanjutkan sekolah). Apakah ini tidak berarti bahwa kita telah memutus garis nasib dan masa depan mereka ? ... Coba pikir ini baik-baik Bapak Ibu sekalian ....
"Baiklah, .. untuk satu siswa yang mbolosnya mencapai 47 hari (maksimal sesuai kriteria 24 hari), mohon Wali Kelas menyampaikan laporannya ... "
"E ... begini ... sebenarnya siswa ini ... dulu sudah menyatakan akan mengundurkan diri dari sekolah, tapi ternyata yang bersangkutan atas dorongan wali muridnya, .. kembali bersekolah, .. memang ketika awal-awal siswa tidak masuk tanpa keterangan hingga beberapa hari, saya kurang proaktif menanggapi dengan kunjungan rumah dan mencoba mencari tahu permasalahan apa yang membuat siswa saya tidak masuk tanpa keterangan, maklumlah .. saya harus mengajar di kelas ... hingga tidak ada waktu bagi saya untuk melakukan hal tersebut. Keberhasilan pendidikan anak tidak hanya bertumpu dan bermuara pada hasil saja, tetapi dengan anak masih memiliki semangat dan mau sekolah ... merupakan keberhasilan tersendiri bagi anak tersebut. Jadi menurut saya anak tersebut sebaiknya diangkat saja atau dinaikkan saja ..."
"Oke ... dua siswa dengan kasus yang sama bagaimana laporan Wali Kelas yang lain ... ?" "Memang benar, .. saya sangat setuju dengan usulan Wali Kelas terdahulu, .. bahwa kita harus angkat siswa kita,.. Untuk kasus anak saya, .. memang saya akui saya kurang "ker" (care) dengan masalah yang dihadapi anak saya. Bahkan saya belum pernah mengadakan kunjungan rumah sekalipun ke anak didik saya yang bermasalah hingga mereka mbolos sampai berlarut-larut. Memang prosentase mbolos anak saya lebih dari ambang batas maksimal .. tapi seperti Wali Kelas terdahulu, saya harap anak kita, kita angkat, sehingga tidak ada yang tidak naik kelas gara-gara absen mbolosnya banyak. Dan saya usul agar di tahun mendatang, meskipun saya sudah tidak di sini, agar kriteria prosentase maksimal mbolos ditingkatkan dari 10% menjadi 15% atau syukur-syukur bisa lebih dari itu ... Terima Kasih ... " "Bagaimana dengan Wali Kelas Terakhir yang memiliki kasus serupa .. ?" "Terima kasih atas waktu yang diberikan kepada saya, ... jika dua Wali Kelas sebelumnya jumlah mbolos siswa didiknya lebih banyak dari anak didik saya, maka saya lebih berharap anak saya diangkat dan dinaikkan ... dan ke depan mulai sekarang, ... kita harus terapkan nilai-nilai kejujuran dalam kehidupan kita, .. di segenap ranah .. utamanya pendidikan, .. meski baru saja kita melakukan ketidakjujuran, dengan sepakat mengganti data ketidakhadiran siswa. Bila kita tidak jujur, .. maka akan lucu dan merupakan sesuatu yang sangat sulit bila kita menanamkan nilai-nilai ini pada siswa kita ... Dan yang terpenting kita harus bisa memberikan contoh pada siswa-siswa kita, .. satu saja contoh ... akan lebih bermakna dan mengena dibanding seribu nasehat dan petuah ... termasuk contoh tidak baik, tentunya ... dan saya berharap juga ke depan ... kita semakin semangat dalam mendidik siswa, ... melaksanakan tugas dan amanah dengan sebaik-baiknya, .. tidak sering meninggalkan jam-jam pelajaran untuk sesuatu yang tidak lebih penting dari tugas utama kita mengajar .. Terima kasih .... " "Baiklah ... apakah Bapak-bapak dan Ibu-ibu setuju bila semua anak kita yang bermasalah mbolos yang melebihi kriteria kenaikan ini kita angkat dan kita naikkan .. ?" .... Sekitar 1/3 atau lebih sedikit dari jumlah yang hadir, dengan ketegasan yang sangat minimal, menjawab ... s e t u j u ... Dan palu pun diketuk ... dan kesepakatan pun dicapai ... "Maaf Pak ... saya sangat setuju jika anak-anak diangkat dan dinaikkan, tapi saya usul ... agar data absen "alpa" tidak diganti dengan "sakit" melainkan dengan "ijin" ... terima kasih ... Usul brilliant salah satu Guru. "Baiklah ... usul yang sangat baik dan lokhis ....

Dan pleno pun ditutup dengan bacaan  ....
الحمدلله
Komentar Ikhwan & Akhwat via Face book ....
    •  
      Zuyinah Munir : Kemudian seorang guru dg tersenyum (yg entah apa arti senyumnya) meninggalkan Ruang Rapat Pleno yg Terhormat dan Hebat itu, sambil berucap dlm hati: innalillahi wainna ilaihi roji'uun, tlh 'meninggal' dg saangat tenang salah satu 'guru' terbaik di sklh kita yaitu: "Ustadz Kejujuran", semoga arwahnya diterima di sisiNYA dan kita yg ditinggalkan msh bisa tertawa & tertawa... :-(

      20 menit yang lalu ·

    • Anang Dwijo Suryanto : Dan semoga kita juga diberi kekuatan oleh الله untuk mengikuti jejak langkah perjuangannya ... Dan ... di tahun depan ... tak usahlah kita repot2 menyusun kriteria kenaikan yang kadang untuk konsultasi dan tanda tangan pengesahan butuh 3 - 4 x ke kantor Dinas ...
      11 menit yang lalu ·

  • Pak D' Hari
    • Pak D’ mengomentari : Pleno Kenaikan Kelas
      Sebelum menjawab atau mencari solusi dari permasalahan yang anda kemukakan, saya agak terusik dengan dihubungkannya permasalahan itu dengan nurani kita. Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia arti nurani adalah perasaan hati yang murni yang sedalam-dalamnya, menurut hemat saya ‘nurani’ akan selalu sejalan pengertiannya dengan ajaran agama, dan agama sendiri selalu mengutamakan kejujuran dan kedisiplinan.
      Jadi menurut saya kegiatan guru yang member remidi sebagai upaya untuk menaikkan kelas itu adalah wajar karena siapa tahu sianak sebelumnya sedang kurang sehat atau ada masalah lain. Sedangkan membolos identik dengan kemalasan dan ketidak sungguhan yang bertentangan dengan ajaran agama.
      Seandainya siswa yang tingkat mbolosnya melebihi kriteria kenaikan tetapi nilainya mencukupi untuk naik-kelas, solusinya siswa tersebut bisa di naikkan ke kelas yang lebih tinggi tetapi dia naik kelas dengan sebutan NAIK KELAS PERCOBAAN, dan bila nilai siswa tersebut jeblog alias masih di bawah kriteria kenaikan, maka siswa tersebut harus mau terima ketentuan, TIDAK NAIK KELAS. Jika di triwulan pertama siswa yang naik kelas percobaan menunjukkan tingkat kehadiran yang baik, tidak membolos lagi maka dia berhak melanjutkan pelajaran, namun seandainya sifat membolos masih banyak dilakukan, maka dengan terpaksa sekolah menurunkan kembali ke kelas di bawahnya.
      Sedang dalam hubungannya dengan garis nasib dan masa depan siswa sepertinya ketidak naikkan kelas tidak selalu ‘selaras’. Artinya, selama pengalaman saya mendidik lebih dari seperempat abad, siswa yang gagal di sekolah (drop out) tidak harus gagal dalam mengarungi kehidupan, asal dia tekun, ulet, gigih dan bersungguh-sungguh menekuni bidang ketrampilan yang dipilihnya. Dan siswa yang sukses di sekolah tetapi dia pemalas, santai dan tidak ada kesungguhan dalam menjalani kehidupan- mendatang bisa saja dia gagal dalam hidup.
      Demikian komentar dari saya, maaf atas kesalahan, dan wassalam.
  • Anang Dwijo Suryanto
    22 jam yang lalu
    Anang Dwijo Suryanto
    • Terim kasih Pak D"Hari atas komentarnya yang sangat bagus. Memang benar apa yang penjenengan sampaikan. Tapi itulah kenyataan yang ada. Apa yang tertulis itu adalah kutipan dari yang terjadi. Alhamdulillah bila hal seperti ini tidak terjadi di sekolah Pak D' Hari. Saya pun juga selalu berharap demikian Amin. Matur suwun
       
       

1 komentar:

Anonim mengatakan...

Itulah hidup itu Pak Anang. Kriteria kenaikan kelas yang susah dibuat dan acc mental saat berhadapan dengan kenyataan. Hal yang tidak jauh berbeda ya dengan yang saya tulis.

O ya, bila sempat, jangan lupa berkunjung ke http://hardivizon.com/2011/06/23/catatan-kecil-bersama-papa/ dan ditunggu komentarnya.

Terima kasih

Posting Komentar

Slide

Picture Talk More Slideshow: Anang’s trip to Kabupaten Nganjuk (near Kediri), Java, Indonesia was created by TripAdvisor. See another Kediri slideshow. Create a free slideshow with music from your travel photos.
Anang Dwijo Suryanto. Diberdayakan oleh Blogger.

 
Powered by Blogger