free counters


My site is worth $2022.1.
Berapa harga Blog/Web Anda?

WHO KNOWS, WHO IS ACTUALLY THE GREAT AND THE MOST TERRORIST IN THE WORLD ?

Minggu, 04 Maret 2012

Wawancara dengan Ustadzah Jujun

Sudahlah Mi, .. Ayah koq merasa nggak pernah mau memenuhi keinginannya. Bagaimana kalau kali ini kita beri kesempatan anak kita untuk mewujudkan keinginannya. Sepertinya sih, .. bukan semata karena pengaruh teman-teman, tapi murni karena memang dia ingin mencoba daftar ke sana,...
Maka hari Minggu itu pun, setelah mendaftar secara online sebelumnya, jadilah Mbak Nuzi mengikuti seleksi PSB, yang ternyata harus saya ikuti dengan tes wawancara. Sungguh, ... biaya dan lokasi yang tinggi dan terpencil tidak menyurutkan niat dan langkah para orang tua untuk mencoba mempercayakan pendidikan anaknya ke sini. Ke Ar-Rohmah Islamic Boarding School.
Dan setelah panggilan untuk kartu antrian saya berkumandang, dan kartu saya kumpulkan, panitia yang sepertinya dari unsur siswa, mengajak saya mengikutinya dan mengantarkan pada meja interviewer. Seorang Ustadzah ramah, dengan tatapan sudut matanya yang cukup tajam, dengan seulas senyum tulusnya mempersilakan duduk. Ada suatu atmosfer positif yang membawa pada kehangatan wawancara yang akan berlangsung, yang tak pernah kami sadari apa itu.
Seperti mengetahui yang dihadapi, Ustadzah yang murah senyum ini pun justeru mempersilakan saya menyampaikan sesuatu terkait Mbak Nuzi, tanpa lead formal. "Menurut pemikiran saya sich, .. Insya Allah lebih banyak masalah akademik Mbak, dibanding masalah karakteristik .. " "Ehm ... ananda lebih dekat pada ayah atau ibunya Pak, .. ?" "Lebih dekat pada saya Mbak, ..."
"Apakah menurut Bapak, ananda introvert ?" "Insya Allah tidak Mbak, .. Dia sering cerita apa-apa yang baru dialami di sekolah, bahkan dengan sangat antusias. Kadang saya merasa kurang bisa memberi respon sebanyak yang seharusnya." "Kalau punya masalah Pak, .. ?" "Ya, ... pada kami berdua Mbak, .. dia sharing dan curhat, hanya kadang tidak dalam saat yang bersamaan, .. " "Pernah ananda marah hingga mutung Pak, .. ? Dan bagaimana Bapak mengatasinya ?" "Eee.. pernah suatu ketika Mbak, .. saya merasa anak saya ini pingin sekali saya marah sekali, pingin saya kasari, dan setelah betul-betul saya kasari, dan ketika setelah itu saya perlakukan dia dengan lembut, halus dan penuh kasih sayang, nampak sekali pendar kebahagiaan luar biasa terpancar dari rona wajahnya." Sesaat selesai ucapan saya, saya lihat roman wajah Ustadzah ini nampak memancarkan keharuan dan sepertinya sempat merinding bulu romanya,.. meski belum memahami betul makna penuturan saya, yang karenanya saya tambahkan dengan deskripsi uraian lebih lanjut.

"Terus .. hobi ananda apa Pak ?" "Yang tertulis sich, ... membaca Mbak .." "Lho koq yang tertulis Pak ? Bacaan yang biasa dibaca apa Pak ?" "Ya,.. novel, kumpulan cerpen .. " "Komik juga Pak ?" "Iya ... Mbak terkadang ... " "Saya memang mencoba tanamkan agar Mbak Nuzi, anak saya ini agar suka membaca Mbak. Juga menulis seperti Ayahnya." "Punya diary Pak ?" "Wah, .. Ustadzah ini gimana sich,.. koq jauh sekali melencengnya pertanyaan. Habis bicara hobi koq tanya masalah penyakit diare ?", pikir saya dalam hati. "Ya pernah Mbak kadang-kadang, .. tapi paling diminumi teh pahit juga sudah sembuh Mbak .." "Maksud saya Buku Harian Pak ,.. " "Ooo .. saya kira diare mencret Mbak,.. Kalo itu memang pernah saya suruh Mbak,.. agar Mbak Nuzi punya catatan harian seperti Ayahnya ketika SMP dulu. Dan untuk menarik minat dan menumbuhkan hobinya ini, saya bacakan buku harian saya. Buku Jurnal bersampul batik, yang saya buat tabel berisi No, Hari Tanggal dan Kejadian." "Bapak masih menyimpannya ?" "Iya Mbak .. dan betapa anak saya tertawa geli dan terpingkal-pingkal mendengar kisah lucu dan polos saya ketika masih muda dulu. Saya juga dorong dia membuat BLOG, tapi sayangnya Blog dia diblokir sama Google. Saya dorong dia untuk menulis apa yang dilihat, didengar, dirasakan dan dialami untuk mengasah ketajaman menulisnya." "Menurut Bapak, apakah ananda siap sekolah di sini, dengan segala kepadatan aktifitas belajarnya, ibadahnya serta banyaknya peraturan yang harus ditaati Pak ?" "Insya Allah kalau masalah padatnya aktifitas, semoga dia bisa menyesuaikan Mbak, .. yang jelas selama ini Mbak Nuzi sekolah di Full Day  School yang pulang hingga jam 15.00. Tentang aturan, .. Insya Allah.. selama ini saya begitu banyak memberikan aturan-aturan pada anak saya Mbak, .. bahkan untuk hal-hal yang sangat sepele, seperti mengambil sesuatu dan tidak mengembalikan di tempatnya, maka saat itu juga langsung saya tegur dan saya minta dia meletakkan barang tersebut di tempat semula, serta hal-hal yang mungkin bagi sebagian orang itu adalah sesuatu yang remeh. Kadang saya juga berpikir, apa perlu hal-hal remeh temeh dan kecil seperti itu saya tekankan betul pada anak saya ?" "Sangat perlu Pak, .. ", sahut Ustadzah mendukung saya.

Dan wawancara yang hangat, akrab dan komunikatif itu pun berlangsung cukup lama, .. hingga akhirnya harus kami akhiri, .. dengan satu pertanyaan "Maaf Mbak, .. nama Mbak Ustadzah ini siapa ya, .. kalau saya boleh tahu ?" "Jujun Pak, ..", jawabnya mantap dan penuh self confidence.
Read more »

Selasa, 14 Februari 2012

Menarik Kembali Siswa Produk Gagal, Bisakah ?

Seorang dokter yang melakukan malapraktek, maka akibatnya secara langsung adalah pada pasien yang menjadi korban malaprakteknya. Demikian juga suatu perusahaan, ketika kemudian terbukti bahwa produk yang dihasilkan adalah produk cacat atau produk gagal, sebagai konsekuensi layanan dan tanggung jawab profesional dan moral, mereka akan dan bisa menarik kembali produk cacat tersebut, meski sudah terlanjur beredar di seluruh penjuru dunia. (Nissan tarik ratusan ribu produknya di seluruh dunia)

Akan tetapi Bapak/Ibu sekalian, ketika kita sebagai Guru, sebagai Pendidik melakukan mala ajar atau mala didik, pada siswa kita dengan menanamkan suatu konsep yang salah tentang teori tertentu atau yang lebih parah jika kesalahan itu menyangkut konsep norma, perilaku, atau memberi contoh yang tidak baik yang pada akhirnya konsep dan contoh perilaku salah, yang tidak membangun karakter tapi justeru meruntuhkannya tersebut kemudian diaplikasikan dalam kehidupan sehari-hari, maka yang terjadi adalah hal tersebut tidak hanya dialami atau menyangkut satu atau dua anak, tetapi bisa ratusan bahkan ribuan anak didik kita. Dan untuk produk cacat yang kita hasilkan itu, tentu kita tidak bisa menarik dari peredaran. Bahkan sekedar merevisi saja kita sangat kesulitan.

Bapak Ibu sekalian, kita adalah pendidik, kita adalah contoh dan teladan nyata bagi anak didik kita. Karena itulah, mari kita beri anak didik kita teladan yang baik. Bagaimana motivasi dan semangat belajar siswa kita bisa menyala dan menggelora, bila kita tidak memberi teladan dengan etos, semangat dan motivasi kerja yang tinggi ? Bagaimana kedisiplinan siswa akan terwujud bila kita tidak memberikan contoh teladan untuk itu semua ? Jika ketika bel tanda masuk berbunyi, kita baru masuk kelas 15 menit atau 20 menit kemudian setelahnya, bagaimana kita bisa berharap anak-anak akan tertib, disiplin dan tepat waktu ?
Bila kita abai dengan penampilan kita, dengan disiplin mengenakan seragam kita, dengan dalih apapun, apakah tidak berseragam nya karena melanjutkan memakai baju yang kemaren karena baru 1 hari dipakai, atau karena lupa, atau terlebih-2 karena disengaja tidak berseragam, maka tentu akan sulit bagi kita menertibkan mereka dalam hal berseragam.
Bila ketika menjadi pengawas ujian, kemudian karena rasa iba kita, lantas kita memberi kelonggaran dan kesempatan pada para siswa peserta ujian untuk saling kerja sama, maka bagaimana bisa kita menanamkan sikap dan jiwa kemandirian dan tanggung jawab pada siswa kita ? Terlebih seperti kasus mencontek massal di ujian nasional tahun kemaren,  maka bagaimana bisa kita mengajarkan kejujuran kepada mereka ? Alih-alih mengajarkan kejujuran, justru kita memberi contoh konkrit dan sangat membekas dalam ingatan mereka, yang tak akan terlupakan seumur hidupnya. Ajaran tentang nilai kecurangan, ketidakjujuran. Bahwa ternyata curang itu diperbolehkan, .. buktinya hal itu yang dicontohkan oleh gurunya. Lebih parahnya jika ajaran ini kemudian disampaikan pada anak cucunya.

Bapak Ibu Guru sekalian, .. saat ini pemerintah dengan segala daya dan upayanya telah berusaha dan itu telah diwujudkan, meningkatkan gaji dan kesejahteraan kita, para guru. Karena itu, merupakan suatu keniscayaan bagi kita untuk mewujudkan rasa terima kasih pada pemerintah, dan khususnya rasa syukur yang mendalam atas rahmat ini, kehadirat Allah SWT, dengan kinerja dan kesungguhan kita dalam bekerja, dalam membimbing dan mendidik anak didik kita, siswa-siswa kita. Kita tidak perlu mengorientasikan pengawasan kinerja kita pada Kepala Sekolah, Pengawas, atau Pejabat di atas kita, karena sejatinya bukanlah mereka yang memberikan amanat jabatan (guru) ini pada kita, akan tetapi Allah lah yang memberikan amanat ini. Karena itu tentu Allah juga yang akan menuntut pertanggungjawaban dari amanat kita ini. Kita pun juga ingin dan sangat berharap, agar rejeki yang kita terima tiap tanggal 1 di setiap awal bulan ini berkah dan membawa keberkahan pada kita, pada keluarga kita. Dan Insya Allah, salah satu kriteria keberkahan itu adalah manakala kita melaksanakan amanah dengan sebaik-baiknya. Dan satu lagi Bapak Ibu, dalam konsep Islam ajaran agama kita, ketika kita menyampaikan dan mengajak melakukan kebaikan pada orang lain, maka ketika kemudian orang tersebut mengamalkan ajaran & ajakan kita, maka pada ketika itu pula mengalirlah pahala pada kita. Sekali pun kita telah meninggal dunia. Dan ini adalah investasi akherat yang luar biasa.

Demikian kurang lebih antara lain yang disampaikan oleh Bapak Pengawas SMP Kabupaten dalam pengarahan dan pencerahannya, setelah mengadakan supervisi terhadap Bapak Ibu Guru dalam proses pembelajaran di kelas, yang kegiatan supervisinya tidak terjadwal. Yang karenanya segala sesuatunya bukanlah hasil dari persiapan-persiapan yang telah dilakukan secara sangat matang jauh sebelumnya, .. tetapi apa adanya.


Read more »

Kamis, 09 Februari 2012

TELEVISI, SI KOTAK (SETAN) AJAIB

    Berkembang pesatnya teknologi serta dibuka lebarnya pintu kebebasan termasuk dalam bidang pertelevisian, menjadikan TVRI tak lagi menjadi satu-satunya stasiun televisi di negeri ini. Puluhan stasiun televisi swasta bermunculan dengan beraneka menu acara yang beraneka ragam, serta berjubelnya acara iklan yang selalu mewarnai setiap acara. Demikian juga dengan durasi penyiaran, tak lagi ada batasan alias 24 jam nonstop. Terlebih di era menjamurnya parabola. Maraknya stasiun televisi dengan berbagai acaranya, jika kita amati ternyata begitu banyak yang tidak mengandung unsur mendidik atau memberikan teladan yang baik, bahkan cenderung konyol, remeh temeh, merusak mental dan karakter. Belum lagi acara-acara hiburan yang penampilan artis atau penyanyinya begitu seronok, mengarah pada pornografi dan porno aksi, ditunjang dengan sempurna tema lagu yang dibawakan, yang tanpa muatan mendidik, mengacu pada norma, bahkan menjurus pada aksi seks, porno, dan merendahkan martabat kaum wanita. Kelebihan televisi yang sekaligus melibatkan banyak indera kita dalam menikmatinya, membuat televisi menjadi guru yang hebat dalam mendidik anak. Betapa anak dengan sangat mudah memahami, menghapal bahkan meniru hal-hal yang ada di acara televisi, termasuk acara yang tidak seharusnya dikonsumsi anak, bahkan cenderung berbahaya bila dikonsumsi oleh mereka. Dan ini juga menjadi salah satu potensi besar dampak negatif televisi.
     Kemampuan luar biasa media televisi lainnya dengan acaranya adalah kemampuan membius, melenakan dan membuat ketagihan pemirsanya. Berbagai acara yang ditayangkan, dikemas dan disetting secara sekuel, berkelanjutan sehingga menimbulkan efek addict atau ketagihan. Acara yang ditayangkan tak lagi memerhatikan jam tayang, membuat siapa saja, kapan pun bisa menikmati acara televisi. Terlebih acara-acara live (langsung) dari luar negeri yang beda beberapa jam waktunya dengan negara kita, seringkali membuat acara-acara tersebut harus dinikmati pada jam-jam malam atau dini hari. Acara seperti sepakbola yang sangat digemari, tak menyurutkan niat siswa SMP atau bahkan SD sekalipun, yang terjangkit penyakit GIBOL untuk melihatnya meski harus menunggu hingga jam 2 atau jam 3 dini hari. Sehingga tak jarang muncul banyak kasus siswa terlambat datang ke sekolah karena bangun kesiangan atau tertidur pulas saat diajar di kelas akibat menonton sepakbola hingga dini hari,. Juga acara live tak tau diri yang digelar dan dihadiri pelajar pada saat-saat jam sekolah. Betul betul tidak habis pikir untuk bisa dimengerti alasan cerdas pengelola televisi memilih jam tayang seperti ini. Tak terbatasnya jam tayang televisi sepertinya membuat perusahaan pertelevisian kebingungan dan kehabisan acara-acara terutama yang bermutu, untuk menjubalkan di acara tayangannya, maka tak heran muncul banyak acara yang tak bermutu, remeh temeh dan konyol, tetapi menelan biaya milyardan ..
Akan halnya remaja, merupakan segmen pasar luar biasa bagi acara-acara televisi. Sekian persen acara televisi  diarahkan pada remaja, yang mereka sadari betul bahwa di masa ini remaja adalah individu yang sangat besar rasa ingin tahunya sekaligus besar keinginannya untuk mencoba hal-hal baru. Remaja yang seharusnya banyak waktunya digunakan untuk belajar, menuntut ilmu, berkarya dengan hal-hal positif, menjadi banyak tersita waktunya akibat terlalu banyak menonton televisi. Ya, .. mereka bisa sangat terlena dengan ini semua. Tak terasa waktu berjam-jam telah dihabiskan di depan layar televisi, dengan beralih dari satu acara di satu stasiun televisi ke acara lain di stasiun televisi yang lain. Mereka bahkan berani mempertaruhkan acara televisi kegemarannya dengan meninggalkan kewajibannya pada Allah (sholat), dengan dosa yang harus timbul akibat berani melawan orang tua akibat bersitegang dengan beliau, dengan hukuman di sekolah akibat tidak disiplin masuk sekolah, atau karena alpa tidak mengerjakan PR dan sebagainya. Televisi juga sangat berperan dalam mengkampanyekan suatu perayaan yang tidak jarang sangat bertolak belakang dengan budaya, adat, terlebih ajaran Islam. Salah satu contoh di bulan Pebruari ini, pasti semua stasiun televisi akan gencar menyiarkan valentine day, satu budaya barat yang sarat dengan zina dan maksiat, tapi sangat digandrungi remaja-remaja sesat negeri ini yang sok tak mau ketinggalan budaya barat. Selain dampak negatif acara televisi seperti dideskripsikan diatas, berikut adalah dampak yang lain :
1.  Membuat lupa waktu, bila seseorang telah menonton televisi, mereka akan merasa malas untuk melakukan pekerjaan lain, terutama belajar. Waktu seolah berjalan begitu sangat cepat ketika berada di depan televisi. Sehingga banyak pekerjaan terbengkalai karenanya.
2.  Banyaknya acara yang tidak mendidik bisa mempengaruhi kejiwaan anak atau remaja. Acara kekerasan, adegan sex, cabul dan seronok, sinetron yang menampilkan bagaimana dialog seorang anak dengan orang tuanya yang sangat jauh dari etika dan moral, serta nilai agama, bisa menjadi benih subur bagi penghancuran karakter remaja, bila setiap waktu mereka dijejali secara sistematis dengan acara-acara tersebut. Belum lagi ratusan sinetron remaja murahan yang mengambil setting sekolah (SMP/SMA) yang penuh nuansa asmara, pergaulan bebas, dan penampilan yang jauh dari penampilan siswa seharusnya, didukung oleh tema yang sama sekali tak bermutu.
3. Meningkatnya sifat konsumtif akibat berjejalnya iklan dari produk-produk yang tidak penting dan dibutuhkan. Penyajian iklan yang gencar, berulang-ulang dan sangat persuasif, sangat memungkinkan masyarakat membeli barang bukan karena keperluan, tetapi karena prestise dan sekedar mencoba. Maka jadilah mereka korban iklan/reklame.
4.  Menjadi pemalas. Orang yang menonton televisi berlebihan dan terus menerus, umumnya akan menjadi pemalas karena badannya tidak banyak bergerak dan hanya duduk diam atau tidur-tiduran di depan televisi. Jika seseorang selalu dalam posisi seperti itu setiap hari dan dalam waktu yang cukup lama, maka tubuh tidak akan terbiasa bekerja berat, akibatnya adalah tubuh akan menjadi lemah atau lemas.
Melihat fakta dampak negatif televisi yang demikian dahsyat, meski sebenarnya dampak positifnya tetaplah ada, maka kita sebagai orang tua sekaligus pendidik bagi siswa dan juga anak kita sendiri, haruslah mempunyai langkah-langkah jitu dalam membentengi anak-anak kita, generasi penerus negeri ini dari akibat negatif acara televisi. Rasanya terlalu berlebihan bahkan suatu yang musykil jika kita menyandarkan harapan kita untuk membendung dampak negatif acara televisi ini ke pundak pemerintah, karena sejatinya menjamurnya televisi dan acaranya dengan berbagai dampak negatif yang ditimbulkannya ini tak luput dari kebijakan permisif pemerintah yang tidak terlalu berpihak pada norma, dan pembentukan karakter anak bangsa saat ini. Lalu apa selanjutnya yang harus kita lakukan untuk membentengi, untuk mengurangi dampak negatif acara televisi bagi generasi muda, anak-anak kita ? Beberapa langkah ini mungkin bisa kita terapkan :
1.    Mendampingi putra-putri kita saat menonton televisi. memberi pengertian tentang sisi negatif dan positif tayangan yang kita tonton.
2.    Gerakan Mati TV dalam jam-jam tertentu. Di beberapa daerah, kepala daerah atau walikota ada yang telah menerapkan gerakan ini. Tujuannya untuk membatasi jam melihat tayangan televisi terutama pada jam atau waktu anak belajar.
3.    Gerakan "No TV at all" Beberapa keluarga, yang sangat takut akan ketidakmampuan memenej acara menonton televisi di rumah, akhirnya mengambil langkah frontal dengan sama sekali meniadakan televisi di rumah. Apakah mereka ini tak takut menjadi kuper, tidak melek informasi ? Tentu tidak, karena televisi hanyalah salah satu sumber informasi, di antara sekian banyak sumber informasi dan hiburan.
Akhirnya marilah kita berharap semoga generasi kita mendatang menjadi generasi yang cerdas dan pandai menghargai waktu dan memanfaatkannya, selalu bersandar pada prinsip, mereka yang akan menjadi pewaris surga salah satu kriteria setelah kriteria beriman kepada Allah SWT adalah, “yang menjauhi dari perkara-perkara yang tiada guna” (QS.Al-Mukminun:3)  (Baca Artikel Bagus tentang TV dari majalah Hidayatullah)
Read more »

Minggu, 08 Januari 2012

Reuni Tiga Generasi

Bermula dari keinginan mulia teman-2 pada tahun 2003 saat pertemuan alumni Mahasiswa Bimbingan Konseling IKIP Malang tahun 1988, yang biasa disebut GCO '88, yang tidak aku hadiri. Serta dukungan penuh budi baik Ketua Angkatan yang kini telah sukses luar biasa di luar jalur Konselor, Miftahussurur. Setelah proses panjang dan melelahkan dari panitia yang dipandegani Dwi Basuki Mahmud (Lentho), jadilah tanggal 3-4 Januari 2012 sebagai saat monumental, karena bertemunya empat angkatan ('88, 89', 90' plus '91) dalam satu acara silaturahim di Hotel Arum Dalu Kota Batu. Seluruh akomodasi, konsumsi bahkan transportasi bagi teman luar kota yang menggunakan angkutan umum, difasilitasi kendaraan jemput di masing-masing terminal.

Dihadiri Ketua Jurusan Bp. Triyono, dan Sekretaris Jurusan Ibu Ella Faridati Zein, menambah suasana reuni menjadi hidup, bermakna dan penuh memori.
Ketika acara santai, ketika acara saling mengingat dan mengingatkan saat-saat kuliah dan di luar perkuliahan, saat-saat penuh kenangan, suasana menjadi semakin gayeng,.. Sungguh tak nampak perbedaan antara ketika kita saat itu dan saat ini. Rasa yang terpatri di hati ini, sungguh tak ada beda dengan saat itu. Tak ada dinding penghalang baik berupa strata, ataupun tingkat kesuksesan. Kami merasakannya bagai mengulang masa-masa lalu itu kini.

Hanya sayangnya, .. ketika topik-topik tak lagi netral,.. atau ketika topik netral tak lagi menarik, maka yang menjadi topik adalah kelemahan, kekurangan, dan kekonyolan sesama. Sungguh sangat membuat diri ini prihatin, ketika salah satu teman harus menjadi obyek gurauan. Meski dia menanggapi dengan senyum, saya tahu pasti raut wajahnya tak bisa menyembunyikan ketidak berkenan hatinya. Sungguh sangat aku sayangkan, ketika seorang teman sudah dengan susah payah dan dengan pengorbanan yang cukup besar, harus mengatakan yang tidak semestinya kepada suaminya perihal tujuan kepergiannya hari ini yang sebenarnya, ternyata ketika dia hadir harus mendapatkan respon yang saya yakin sangat tidak diharapkannya. Hingga di rekaman suara yang saya buat, saya beri nama file "..... jadi obyek". Dan hal ini pun masih berlanjut ketika di acara yang sebenarnya cukup sakral yakni acara Tausyiah, dalam rangka menghindari "loose the word" nya, Pak Ustadz terpaksa menggunakan jurus-2 yang kurang arif ini. Tapi overall semuanya berjalan bagus, demikian juga dengan materi-materi yang disampaikan oleh Bapak Ustadz. Mengingatkan arti dan tujuan hidup yang hakiki.

Kegiatan yang semestinya berlangsung 2 hari, hanya mampu aku ikuti satu hari, karena di hari kedua reuni, aku harus mengantar istri anak dan keponakan menghadiri pelantikan Dokter dari adik istriku.
Terima kasih Ableh, Lentho yang telah mengantarkan aku ke Arjosari hingga aku tak terlambat ke Surabaya. Terima kasih Nanang yang telah meminjami Xenia adiknya untuk mengantarkan aku. Budi baik kalian niscaya dibalas Allah.

Dan lebih dari segalanya, pertemuan itu betul-2 menyatukan hati kami, setelah sekian puluh tahun berpisah. Dan ada fenomena yang mampu membuat diri ini memiliki kepercayaan diri yang lebih tinggi. Sesuatu yang tak bisa diungkap di sini. Karena sejatinya ia hanya bisa dirasakan di dalam hati, di dalam jiwa.
Alhamdulillah, ... terima kasih Allah, telah Engkau buka hati saudaraku Miftah, untuk memiliki niat menyatukan, mempertemukan kami, ... meski tak semua bisa menghadiri, .. karena udzur mereka, atau karena memang pasti tak dapat menghadiri, karena Engkau telah memanggil untuk hadir ke haribaan-Mu Ya Allah. Selamat jalan saudaraku Ahmad Zawawi, Siti Mardiana, ...
Read more »

Sabtu, 07 Januari 2012

Tenangnya Menyontek ...

Begitu selesai membagikan lembar soal dan lembar jawaban, tak langsung aku menulis Berita Acara dan mengisi nomor dan nama peserta di lembar daftar hadir, seperti biasanya.
Rasa iseng dan ingin tahu lebih menggelitik untuk melihat suasana ujian di ruang sebelah. Dari sebuah lubang berukuran 30 cm x 14,5 cm di pintu tripleks yang menyekat dua ruangan, terlihat adegan tidak senonoh, he he he, .. adegan yang mencoreng rasa percaya diri, mandiri dan kejujuran. Yang ternyata merupakan fenomena lumrah yang menghiasi atmosfir ujian umumnya.
Di bangku baris ketiga dari belakang, seorang siswa laki-laki dengan rasa aman dan percaya diri yang tinggi membuka buku yang sengaja diletakkan secara terbuka di laci mejanya, sambil sesekali matanya melihat ke arah meja pengawas, beralih bergantian ke arah lembar soal dan buku contekannya. Beberapa menit saya tinggalkan pandangan dari lubang di pintu, untuk kembali melihat perkembangan berikutnya, merasa posisinya sangat aman dari pantauan pengawas, yang kulihat sekilas sedang asyik dengan koran bacaannya, seorang siswi yang duduk persis di belakang siswa pencontek tadi, juga dengan rasa percaya diri yang sangat tinggi, tanpa terlihat kaku dan takut, mengeluarkan LKS yang sudah dipersiapkan dalam posisi terbuka, menariknya dari laci bangku, meletakkannya di atas paha dan membaca atau tepatnya mencari-cari jawaban dari soal yang ditanyakan.


Dan ketika pengawas ruang atas info yang saya sampaikan akhirnya menyita media contekan, tanpa ada sanksi apapun kecuali membuat catatan kecil di Berita Acara, maka sang siswa dan siswi dengan senyum ringan dan lebarnya seperti tak ada beban apapun, malu, takut, mengembang dari bibir mereka. Menyesal ? Malu ? Sepertinya ekspresi wajah yang mengguratkan suasana hati yang demikian, tak nampak di wajah mereka.

Jadi ingat ekspresi wajah penjahat, eh pejabat negeri ini yang terjerat kasus memalukan, memuakkan dan menderitakan rakyat banyak, yang sering muncul di layar-layar TV itu, .. Nothing to lose ... begitulah ... Dan ternyata inilah satu dari tempat embrio itu semua. Dan ternyata inilah miniatur gambaran carut marut kehidupan yang menunjukkan mulai menipisnya akhlak & karakter anak negeri ini.
Read more »

Arti sebuah Tulodho

Pagi itu, sebelum jam ujian dimulai, di pelataran sekolah, empat siswa berbaris rapi di depan Bapak Head Master. Keempat siswa tersebut tidak berseragam sebagaimana seharusnya. Baju atas batik sudah sesuai, tapi celana tidak sesuai. Jadi jika ditotal 50% siswa tersebut tidak berseragam. Beberapa pengarahan & motivasi diberikan oleh beliau. Tidak cukup pengarahan, Bapak Head Master yang amat peduli pada kedisiplinan siswa ini pun memberikan sanksi siswa tidak diperkenankan mengikuti ujian di ruang ujian, melainkan mengerjakan soal ujian di ruang sekretariat. Pada saat yang hampir bersamaan, masih pada ketika Bapak Head Master "menangani" indisipliner 4 siswa tadi, seorang guru berlalu dengan kondisi tidak seragam 100%, artinya pakaian yang dikenakan tidak sesuai sama sekali dengan ketentuan seragam pada hari itu. Terbayangkah di benak siswa tadi pikiran "Lha dalah ... guru saya ini jauh lebih tidak seragam dari pada teman-temannya dibanding saya, kira-kira apa ya yang akan dilakukan Bapak Head Master kepada beliau ini ? Ditegurkah, .. ? Diberi pengarankah ? Atau, ... diberi sanksi ? Kira-kira sanksinya apa ya ?"

Dan ketika di siang harinya ada lagi guru yang tidak berseragam saya tanyakan dengan berseloroh, .. maka jawab beliau adalah .. "... saya sengaja koq Pak ... "
Nah lho, .... gimana ini ?
Sepertinya hal ini sepele dan kecil.
Ya, .... sebuah contoh keteladanan,....
Tapi bukankah seribu nasehat yang membuih bagai busa di samudra tidak akan pernah berarti dan bermakna ... tanpa TULODHO, tanpa teladan atau contoh .. ?
Read more »

Sabtu, 31 Desember 2011

SUDAH SAATNYA PEMERINTAH PINTAR,BIJAK DAN TEGAS MENYIKAPI ACARA-ACARA SAMPAH DI TV YANG BERPOTENSI BESAR PADA RUSAKNYA MORAL DAN MENTAL GENERASI PENERUS NEGERI TERCINTA INI.
Read more »

Mimpi Pengawas Ujian

       Setelah 6 tahun tidak pernah mengawasi ujian apapun di sekolah (Ulangan semester, Ulangan kenaikan kelas, atau Ujian Nasional) tahun ini saya mendapatkan tugas yang sangat saya sukai ini, yang sangat mungkin sangat tidak disukai siswa yang saya awasi, pastinya.
       Seperti halnya setiap kegiatan yang dilakukan, tentu semuanya mengarah pada hasil yang ingin dicapai. Banyak orang abai akan proses yang menyertai dalam mencapai hasil tersebut. Demikian juga dengan ujian. Banyak di antara siswa kita saat ini ketika melaksanakan atau mengikuti ujian arah kecenderungan orientasinya, bahkan tak hanya siswa, guru pun juga demikian, adalah "hasil" yang berupa nilai. "Nilai bagus", itu yang terpenting ! Sehingga kadang berbagai macam cara dilakukan. Nyontek, kerja sama, curang, mencuri jawaban teman, semua menjadi hal biasa yang mewarnai suasana ujian. Nggak tanggung-tanggung, dalam forum mulia semacam Ujian Seleksi Guru Berprestasi, ataupun Ujian Profesionalisasi Guru dalam Pelatihan (PLPG) hal semacam itu masih saja bisa dijumpai, apalagi dalam konteks ujian siswa.
       Berangkat dari kenyataan di atas serta untuk memberikan wacana, pemahaman dan prinsip lain yang berbeda kepada siswa tentang ujian, dalam mengawasi Ulangan Akhir Semester Ganjil tahun 2011/2012 ini, motto JUJUR, PERCAYA DIRI, DAN MANDIRI, betul-betul saya terapkan dengan sangat ketat. Bukan maksud saya menghancurkan nilai nilai siswa dengan mengawasi ujian secara ketat, karena kenyataannya sebenarnya, nilai sangat mudah dimanipulasi, semudah memanipulasi SPJ kegiatan yang berlangsung 2 hari menjadi 4 hari, atau bahkan kegiatan yang sama sekali tidak dilaksanakan. Tapi saya ingin, anak-anak didik saya lebih melihat bahwa proses dalam meraih hasil juga tidak kalah penting. Bahwa dalam mencapai suatu hasil kita harus selalu memperhatikan bagaimana cara kita meraihnya. Apakah dengan cara-cara yang bersih atau kotor, melanggar norma, hukum atau tidak. Dengan cara-cara yang diridhoi Allah atau justru dimurkai.
       Saya yakin momen semacam ini adalah satu event yang sangat tepat dalam melaksanakan pendidikan karakter. Membentuk karakter jujur, mandiri, percaya diri, berani menanggung resiko, tanggung jawab, tidak bergantung dlsb. Anggaran untuk membumikan dan menggemborkan pendidikan karakter yang besarnya milyard an rupiah itu menjadi sangat tidak efektif dan membawa hasil manakala forum-forum semacam ini tidak dimanfaatkan sebaik-baiknya untuk menerapkan pendidikan karakter itu sendiri. Apalagi pendidikan karakter yang dijalankan sangat miskin contoh dan keteladanan.
       Ketika pengawas ujian tidak menerapkan prinsip-prinsip ini dalam melaksanakan tugasnya sebagai pengawas ujian, atau bahkan memberikan keleluasaan pada siswa (hal yang sangat lumrah dalam Ujian Nasional, berdalih agar siswa tidak tegang atau stress) untuk berusaha mendapatkan jawaban dari temannya, maka karakter mulia di atas akan menjadi sesuatu yang sangat muluk. Dan indikasi dampak nyata yang nampak adalah banyaknya kasus-kasus korupsi yang melanda pejabat negeri ini. Karena itu pekerjaan seorang pengawas ujian menjadi sangat penting dan berat karena harus mengkondisikan suasana ujian yang bersih dari kecurangan serta sekaligus di lain pihak harus menghindari suasana mencekam yang membuat siswa tidak fokus dan konsentrasi. Sehingga karenanya tidak bisa mengawasi ujian dilaksanakan sambil membaca koran, mengisi raport dsb.
        Dan ketika pembentukan ketiga karakter (jujur, percaya diri, mandiri) telah berjalan konsisten, istiqomah dan terpatri dalam diri anak-anak didik kita, maka tak perlu lagi kiranya kita menggunakan pengawas ujian. Seperti yang sudah terlaksana di beberapa sekolah swasta favorit di kota-kota besar, "Ujian tanpa Pengawas". Jika mimpi besar ini terwujud, anggaran UN yang jumlahnya sangat besar selama ini, bisa dipangkas karena biaya untuk pengawas tidak ada. Dan yang terpenting tentunya, sekian generasi mendatang Insya Allah tak kan ada lagi pejabat yang suka "BOHONG" di negeri ini ! Wallahu 'alam ...
Read more »

Jumat, 23 Desember 2011

Workshop Peningkatan Mutu Guru ?

       Begitu pedulinya pemerintah pada sekolah yang nilai Ujian Nasionalnya rendah (di bawah 20%). Ketika nilai Mata Pelajaran Emas (untuk SMP : Bhs. Indonesia, Bhs. Inggris, Matematika & IPA), sangat memprihatinkan, maka pemerintah dengan kebaikan hatinya, menggelontorkan bantuan Blockgrant pada sekolah sebesar Rp. 50 juta, satu jumlah yang cukup besar, hingga terkadang membuat bingung penerimanya, "mau dipakai untuk apa saja dana sebesar ini ?"
      Mulai tahun kemaren, sekolah kami mendapatkan dana ini bersama 19 sekolah senasib yang lain. Demikian juga dengan tahun ini. 12 sekolah pada tahun lalu, dengan dana 50 juta ini telah berhasil mendongkrak nilai Mapel Emas, sehingga tahun ini tidak mendapatkan lagi. Sementara itu 8 sekolah yang lain termasuk sekolah kami, masih berhak mendapatkan blockgrant ini karena nilai Mapel Emas belum beranjak dari batas minimal yang telah ditetapkan pemerintah untuk tidak menerimanya. Bahkan di sebagian dari 8 sekolah ini prestasi malah menurun di banding tahun sebelumnya. Posisi 12 sekolah yang nilai Mapel Emas sudah bagus, digantikan 12 sekolah baru, yang sebelumnya tidak menerima dana bantuan.
        Sesuai nama bantuannya, maka dana ini diplanning untuk digunakan meningkatkan mutu, terutama mutu guru. Rupanya ketika nilai Mata Pelajaran Emas rendah, pemerintah melihat bahwa ini lebih dikarenakan faktor gurunya, mutu gurunya. Karena itulah gurunya perlu ditingkatkan mutunya. Kiranya faktor-2 penyebab nilai rendah yang banyak selain faktor guru, tak begitu dilihat oleh pemerintah.
       Beberapa sekolah merasa kesulitan untuk menggunakan anggaran yang cukup besar ini. Untungnya pihak Dinas tanggap, dan memfasilitasinya. Hampir separo dari dana ini terserap untuk kegiatan yang dikoordinasi Dinas, yang bertempat di hotel representatif, selama 4 hari tahun lalu dan juga tahun ini, tapi selesai dalam 3 hari. Sisanya digunakan untuk kelanjutan dari kegiatan di atas, berupa workshop secara cluster oleh 5 sekolah, dan selebihnya digunakan untuk kegiatan intern di sekolah masing-2. Sama dengan kegiatan sebelumnya, kegiatan cluster dijadwal 4 hari, namun terlaksana atau memang dilaksanakan hanya 2 hari.
       Tidak diketahui pasti, apakah sudah ada penelitian, evaluasi atau pengkajian, apakah model bantuan dana seperti ini efektif, efisien, urgen, mendidik, tidak rentan penyelewengan dan manipulasi dalam peng SPJ an, bertentangan dengan prinsip "reward punishment" atau tidak bagi sekolah penerima. Dan apakah sekolah memiliki tanggung jawab moral yang tinggi untuk mempertanggung jawabkan bantuan dana ini, dengan menggunakan sebesar-besarnya dana untuk kegiatan yang mengarah pada mutu pendidikan sekolah, bahkan mutu pendidikan secara umum, yang oleh pemerintah salah satunya diindikatori dengan bagusnya nilai Mata Pelajaran Emas Ujian Nasional. Jadi jika nilai siswa untuk Mata Pelajaran Emas tersebut bagus, artinya mutu pendidikan juga bagus, mungkin begitu kira-kira, ...
Read more »

Kamis, 22 Desember 2011

Kejujuran Seorang "Bakul Jenang"

       Pagi itu si kecil "Hauzan" usai subuh di masjid, mengajak jalan-2 "Nggak usah pake sandal Yah, .. !" katanya, .. "Biar sehat .." Berdua kami pun jalan berkeliling kompleks perumahan. Sesekali terdengar jerit si kecil Hauzan, ketika kakinya yang sebenarnya sudah sangat hati-2 memilih jalan yang halus, menginjak batu kerikil yang lancip. Sesekali juga kami matikan lampu PJ yang tak jarang sampai siang hari tidak ada yang mematikan. Sdah menjadi suatu yang umum di mana lampu penerangan jalan dipasang sendiri oleh warga masyarakat. Ketika lampu yang dipasang untuk menerangi jalan arus listriknya diambilkan dari rumah warga, mungkin tidak menjadi masalah, dan tidak begitu menimbulkan resiko. Demikian juga dengan pemadamannya. Jika sumber listrik diambil dari rumah warga, maka lampu segera dimatikan ketika pagi sudah mulai menjelang terang. Namun kebanyakan di beberapa tempat, warga masyarakat memasang LPJ (lampu penerangan jalan) secara mandiri dan mengambil sumber listrik langsung dari PLN. Selain tidak rapi, semrawut, hal ini jga cukup beresiko, karena mungkin beban di suatu tempat akan melebihi dari yang sudah ditentukan oleh PLN. Akibatnya travo bisa meledak. Efek lain adalah kemubadziran. Karena menganggap listrik gratis, maka ada kecenderungan untuk abai segera mematikan lampu saat hari mulai terang. Atau kadang menyalakan lampunya ketika hari masih sangat sore dan terang. Ini semua adalah kemubadziran.
       Nah, ... ketika tiba di suatu tempat di tepi perempatan jalan, tempat si Mbah Penjual Jenang menggelar dagangannya, si kecil Hauzan minta dibelikan. Karena tidak membawa uang, akhirnya si kecil saya suruh beli sendiri, setelah tiba di rumah. Beli dua bungkus Rp. 2000.  
       Namun ketika kembali, dia hanya membawa 1 bungkus. Negative thinking sempat terlintas juga terhadap Si Mbah. Sampai ketika kami bertiga, saya dengan  kedua anak saya berangkat sekolah dan melewati jalan tempat Si Mbah Penjual Jenang, beliau telah berdiri di pinggir jalan sambil berteriak-teriak memanggil kami,.. memohon maaf, telah melakukan kesalahan transaksi jual beli dengan Hauzan anak kami tadi, ... dan bermaksud mengembalikan uang Rp. 1000 kepada kami. Berulangkali beliau minta maaf atas kesalahannya ini sambil bertutur cerita bahwa telah sepagian ini beliau bertanya pada orang-orang yang lewat, tentang siapa kami dan di mana rumah kami.
        Ya Allah, ... satu pelajaran berharga telah Engkau berikan kepada kami, ... Pelajaran akhlak mulia, ... pendidikan karakter yang selama ini gencar digemborkan dengan backing dana bermilyard, .. namun sangat miskin contoh dan keteladanan. Pelajaran dari Mbah Penjual Jenang ... tentang KEJUJURAN, .. yang sudah menjadi komoditi langka dan mahal di negeri ini.
       Nggak percaya ?! Lihat saja kasus-kasus yang menjerat para pejabat negeri ini. Dengar juga pernyataan-2 mereka yang sarat akan kedustaan dan kebohongan yang dibungkus rapi dengan kertas emas "lupa", ... Simak juga fenomena-2 ketidakjujuran di berbagai lini kehidupan saat ini, .. Kesemuanya ditumpukan pembenarannya pada "kesalahan sistem", .. "sistemnya memang sudah begini, lha terus gimana lagi ... ?"
Read more »

Minggu, 27 November 2011

Yang Berharga dari Parenting Skill

Hari minggu tanggal 27 Nopember 2011, bertepatan dengan tanggal 1 Muharam 1433 H, awal tahun Hijriyah, ... sebuah undangan harus kami hadiri. Undangan dari Sekolah anak kami, yang menyelenggarakan Parenting Skill.

Setelah menyelesaikan tugas di rumah pagi itu, .. kami berdua, bersama istri, menuju ke aula RSUD tempat kegiatan dilangsungkan. Sudah cukup banyak wali murid yang hadir. Biasa, seperti acara-acara formal lain, target ketepatan waktu pelaksanaan sesuai jadwal tertulis di undangan, hampir bisa dipastikan tak bisa terlaksana, seperti juga dalam acara ini.

Dan seperti juga acara-acara formal lain, sambutan-sambutan dari berbagai unsur selalu mewarnai suatu kegiatan. Demikian juga dengan kegiatan ini. Meski sambutan-sambutan yang disampaikan baik dan relevan dengan tema, tetapi dalam momen seperti ini akan lebih bijak bila prioritas waktu adalah untuk pemateri. Tapi Alhamdulillah, pemateri tidak merasa kekurangan waktu banyak. Meski pada akhirnya harus menyampaikan materi dengan kecepatan cukup tinggi dan beberapa poin harus tidak perlu disampaikan, agar materi tercover oleh waktu yang tersedia.

Menarik, menggugah, menantang, dan luar biasa ... itulah kesan saya pada pemateri dan materi yang diberikan.
Bagaimana kita membangun karakter anak-anak, melejitkan potensi cerdas anak yang berkarakter Rasulullah, .. Tak hanya cerdas tapi mulia, ... Luar Biasa ... !
Agar kita bisa menanamkan karakter yang baik pada anak setidaknya ada beberapa hal yang perlu kita perhatikan :
  1. Cek status label barang yang kita masukkan ke dalam mulut/perut anak kita (haram, ataukah halal, thoyyib atau tidak)
  2. Tak hanya yang ke mulut/perut, yang ke telinga (yang didengar), dan yang ke mata (dilihat), juga harus dijaga. Layak apa tidak untuk dikonsumsi anak kita
  3. Perbanyak sedekah
  4. Kuasai ilmu mendidik anak (ikuti workshop2, pelatihan2 parenting)
  5. Upgrade lah cinta anda pada suami atau istri anda. Karena jika ini daluwarsa, tidak update lagi, yang menjadi korban dan sasaran adalah anak. Dan ini sangat berbahaya bagi perkembangan jiwa, dan prsoses pembentukan karakternya. 
  6. Sung Tuladha, .. memberikan contoh, uswah atau teladan, adalah faktor  yang tak kalah sangat pentingnya bagi pembentukan karakter anak. Dan inilah mungkin satu-satunya faktor yang paling sulit.  

Sisi lain yang menggelitik saya adalah tips dari pemateri untuk guru (terutama guru yayasan tempat anak saya sekolah) agar bisa bersedakah jauh di atas jangkauan gaji yang diterimanya. Misal seorang guru mendapatkan gaji Rp. 800.000 per bulan, maka dengan tips ini dia mampu bersedekah pada yayasan sebesar Rp. 1.200.000.
Caranya ? Dengan bekerja keras, ikhlas, berkinerja sebagaimana guru yang digaji 2 juta perbulan dan memang sampai layak seharusnya mendapatkan gaji sebesar itu, maka jika ia meniatkan kekurangan gajinya yang Rp. 1.200.000 tersebut untuk disedekahkan pada yayasan, berarti dia telah bersedekah pada yayasan di mana dia mengajar sebesar Rp. 1.200.000 per bulan. Wow ... luar biasa bukan !?

Masalahnya adalah, ketika ada guru yang bergaji Rp. 4 juta per bulan, lalu kinerjanya sebenarnya pantas dihargai Rp. 2 juta, berarti dia berhutang Rp. 2 juta pada pemberi gaji. Bukankah begitu ... ? Ah ... seandainya benar begitu, ... kita nggak bisa menghitung, berapa hutang kita pada negara yang telah menggaji kita ....

Ada sponsor buku bagus menyertai keberlangsungan kegiatan ini. Penerbit produsen buku-buku Islami dan populer. Salah satunya adalah buku yang berjudul Muhammad Teladanku. Buku yang terkemas dalam 16 jilid ini tersaji dalam bentuk cerita bergambar menarik, yang sangat bagus dan cocok bagi anak-anak. Saya pun tertartik. Saya berharap istri saya juga demikian. Tapi dengan harga yang sedemikian, yang cukup fantastik, Rp. 4 juta sekian, .. mungkinkah istri saya berminat ? Mengingat istri selama ini, setahu saya kurang memiliki minat dalam kepemilikan buku.

Saya pun skeptis .. Tapi di luar dugaan. Ketika saya lama menunggu istri di luar gedung, saat kegiatan telah selesai, tangan saya ditarik istri untuk masuk ke ruangan, dan di sana, di dalam sana, sebuah Formulir Kontrak Jual Beli telah dia isi. Alhamdulillah, ... puji saya dalam hati. Untuk investasi anak .. nggak apalah .. katanya ...
Read more »

Rabu, 23 November 2011

Selamat Tahun Baru Muharam 1433 H

Gelegar 1 Muharam sebagai awal Tahun Baru Islam memang tidak sedahsyat tahun baru Masehi 1 Januari. Tidak ada terompet yang beramai-ramai ditiup menjelang malam tahun baru, tidak juga ada konvoi motor atau mobil, tidak ada kembang api berharga hingga jutaan rupiah yang dibakar dan menghiasi langit malam tahun baru .. tidak ada hura-hura penghamburan uang, hanya untuk menyambut datangnya sebuah tahun .. karena memang dalam konsep dan nilai Islam hal-hal yang bersifat mubadzir dan penghamburan sangat tidak diajarkan bahkan dilarang. Dinyatakan bahwa mereka yang suka mubadzir adalah termasuk ikhwanul syaithon, sahabat setan.

Fakta di lapangan menunjukkan bahwa tidak sedikit umat Islam yang tidak mengenali kalender Hijriyahnya, tidak mengetahui, jika hari itu adalah Tahun Baru-nya Umat Islam. Suatu kondisi yang memprihatinkan memang. Padahal penetapan awal tahun baru Islam mengandung muatan da’wah yang luar biasa. Penetapan Tahun Baru Islam bukan berdasar pada tanggal lahir atau wafatnya Nabi. Khalifah Umar bin Khattab melihat peristiwa hijrah Rasul SAW sebagai tonggak pemisah antara masa jahiliyah yang gelap gulita dan alam islami yang terang benderang, yang pada akhirnya sejarah mencatat dengan tinta emasnya, kejayaan dan kecemerlangan kehidupan yang bertumpu pada syare’at atau hukum Islam, hingga menciptakan tata masyarakat adil, aman, sejahtera di kota Madinah. Satu konsep panutan yang sedang “ngetrend” akhir-akhir ini, yakni “masyarakat madani”
Suatu tatanan masyarakat yang menjadi idaman para pemimpin bangsa ini, suatu kondisi di mana para pemimpinnya begitu amanah terhadap kepemimpinannya, tidak suka korupsi, tidak selalu mementingkan urusan perutnya sendiri, yang segala sepak terjangnya selalu minta diimbali uang, pemimpin yang begitu mentaati hukum yang berlaku, begitu takut dengan pertanggungan jawaban dari apa yang dipimpinnya, tidak justru takut akan lepasnya jabatan atau kepemimpinan dari tangan mereka, yang telah dengan susah payah dia dapat, dengan berbagai upaya termasuk menyogok, sikut sana sikut sini, fitnah sana fitnah sini. Masyarakat yang rakyatnya senantiasa mentaati hukum, patuh dan taat pada pemimpinnya.

Peristiwa hijrah Rasul SAW dilatarbelakangi kondisi masyarakat Mekkah yang pada waktu itu sangat menolak menerima ajaran Islam.
Tantangan yang berat tapi dihadapi dengan tabah oleh Rasul SAW. Akhirnya beliau berdakwah ke kota/negeri lain di antaranya Thoif, Madinah, Habasyah, hingga beliau bertemu 12 orang dari suku Khojroz yang menerima ajaran Islam. Ke-12 orang ini setahun kemudian pada musim haji bertemu lagi dengan Rasul dan melakukan bai’at dan berikrar untuk Tidak : menyekutukan Allah, mencuri, berzina, berdusta dan mengkhianati Rasul. Pada musim haji berikutnya 72 orang dari suku Aus dan Khojroz bertemu lagi dengan Rasul SAW, mengundang beliau untuk ke Madinah, dan berbaiat yang kedua, berikrar setia dan membela Rasul dalam suka dan duka. Bai’at ini membawa dampak dan resiko yang berat, karena mereka harus siap menanggung resiko berhadapan dengan orang-orang dari Jazirah Arab.

Sejak Bai’at yang kedua (Bai’atuts Tsani) inilah hijrah ditetapkan atas kaum Muslimin dari kota Mekkah ke Madinah. Hijrah yang diwajibkan bagi mereka yang didzalimi dan mampu untuk berhijrah. Sebagian sahabat telah berhijrah lebih dulu, sampai akhirnya Rasul berhijrah belaka-ngan ditemani oleh sahabat Abu bakar As-Shidiq

Peristiwa hijrah Rasul yang kronologisnya seperti digambarkan di atas akhirnya diabadikan seba-gai awal tahun dalam kalender Islam (Hijriyah)

Sebagai muslim dalam menghadapi Tahun Baru Hijriyah yang bertepatan dengan tanggal 27 Nopember 2011 ini, hendaknya kita banyak bermuhasabah atau ber introspeksi diri tentang amal-amal kita di tahun sebelumnya yakni tahun 1432 H. Apakah amal kebaikan yang lebih banyak mewarnai derap langkah kaki perjalanan hidup kita, atau sebaliknya, banyak kemaksiatan dan pembangkangan terhadap perintah-perintah Allah yang lebih mewarnai kehidupan kita. Bila jawaban kita adalah pilihan yang terakhir, maka seharusnya kita segera bertaubat, berikrar dan bertekad untuk lebih baik dari sebelumnya. Bahwa kita akan berusaha melaksanakan perintah-perintah Allah dan menjaga diri dari melaksanakan hal-hal yang dilarang Allah SWT. Kita harus optimis dan banyak berdoa semoga di tahun 1433 H ini kita tetap dan lebih mendapat hidayah dari Allah untuk selalu berbuat/beramal sholeh, selalu menyandarkan sendi-sendi kehidupan kita pada syare’at Islam (aturan Allah), pada Al-Qur’an dan pada sunnah Rasul. Dan Ingat ..... ! Kesempatan kita, .... kesempatan kita untuk itu, .... untuk mempersiapkan bekal kita di akherat kelak, telah berkurang 1 tahun, dengan datangnya Tahun Baru Hijriyah tahun ini.
Read more »

Selamat Hari Guru 2011

Tanggal 25 Nopember ini, dan setiap tahun pada tanggal yang sama, diperingati sebagai hari Guru. Hari lahirnya PGRI, Persatuan Guru Republik Indonesia. Tentu anak-anak tidak asing dan sudah sangat akrab dengan seseorang yang berprofesi ini. Setiap hari kecuali hari libur dan hari minggu, mulai jam 07.00 pagi sampai maksimal jam 12.00 (ada juga yang sampai jam 15.00) anak-anak semua selalu berinteraksi dengan Guru, dengan Bapak Ibu Guru. Guru adalah profesi atau pekerjaan yang mulia, karena mengandung unsur mengajar, mendidik dan membimbing siswa. Guru adalah orang tua kedua setelah Ibu dan Bapak. Saat ini, Guru adalah salah atau profesi yang banyak diminati orang. Bukan saja "mulia"nya pekerjaan Guru,
tetapi juga lebih karena gajinya yang wow … keren .. ! Awalnya profesi Guru bukanlah profesi yang menjanjikan, menggiurkan serta banyak diminati, terutama oleh anak-anak muda. Waktu itu jarang ada anak yang bercita-cita menjadi Guru. Ketika suatu ketika sepulang kuliah ada pertanyaan kepada saya “Kuliah dimana ... ? Lalu saya jawab di IKIP (Sekolah Guru) maka Ibu-ibu yang bertanya tadi berteriak dengan sangat kaget bernada meremehkan. Katanya, ”Hah ! IKIP ? Sekolah Guru ? Itulah gambaran profesi Guru waktu itu. Dan memang tak banyak Guru yang kaya raya dari hasil mengajarnya. Sehingga tak sedikit Guru waktu itu yang harus nyambi kerja lainnya, sebagai tukang ojek misalnya. Namun seiring perkembangan jaman dan perhatian serta penghargaan terhadap profesi ini, menjadikan pekerjaan Guru sebagai pekerjaan yang sangat diminati, salah atunya karena gajinya yang cukup tinggi. Terlebih dengan adanya sertifikasi Guru. Yaitu Guru yang mendapat sertifikat sebagai Guru Profesional dan mendapat tunjangan gaji sebesar gaji pokoknya. Berarti gajinya hampir 2 kali lipat Luar biasa bukan .. ? Tentu saja untuk menjadi Guru Profesional harus melalui seleksi dan memenuhi syarat-syaratnya. Dan sesuai dengan namanya, PROFESIONAL, maka guru yang sudah profesional ini akan dan harus lain dari pada guru yang lain. Baik dari cara mengajarnya, semangat atau etos kerjanya, dan kedisiplinannya. Dia akan menjadi Guru yang disiplin dalam mengajar, hampir tidak pernah terlambat masuk kelas atau meninggalkan tugas mengajar tanpa pemberitahuan dan memberikan tugas kepada siswanya. Cara mengajarnya pun juga tidak seperti Guru-guru yang belum profesional. Menarik, mudah dimengerti, sabar, charming, menggunakan berbagai media dan metode pembelajaran. Nah ... di SMP kita ini Bapak Ibu Guru yang sudah profesional baru ada 3 (tiga) orang yakni, Pak Djoko, Bu Lawi, Pak Parji, sedangkan enam Guru lain yakni Pak Anang, Pak Agus, Pak Edy, Bu Narni, Bu Karni, Bu Any dan Bu Zuyinah sudah melewati proses menjadi Guru Profesional, dengan telah lulus Pelatihan. Sementara Pak Ody, Bu Subiatun, Bu Sukarti dan Pak Trimawan terjaring sebagai bakal calon tahun ini. Coba kalau kalian amati, Insya Allah beliau beliau ini adalah sosok guru Profesional yang lain dari guru yang lain, seperti digambarkan di atas. Semoga Bapak Ibu Guru yang lain segera menyusul. Anak-anak ku, .. percaya nggak kalian, bahwa untuk bisa menjadi seorang Pegawai khususnya Guru, tidak sedikit yang mau mengeluarkan uang banyak. Desas-desusnya dalam seleksi penerimaan pegawai dan Guru tahun kemarin, ada yang mau sampai harus membayar Rp. 200.000.000 (Dua Ratus Juta Rupiah). Fantastik bukan ? Nah yang ini namanya Riswa, menyuap atau menyogok. Agama Islam jelas-jelas melarangnya. Tak sedikit mereka yang rela menjual sawah atau harta benda lainnya. Meskipun tak sedikit juga yang akhirnya tertipu. Terakkhir ... di hari Guru tanggal 25 Nopember ini, kami mohon doa kalian semua anak-anakku. Semoga kami, Bapak Ibu Guru kalian ... bisa menjadi Guru yang penuh syukur nikmat ... yang menjiwai dan mencintai pekerjaannya. Agar menjadi guru itu betul-betul Gue banget gitu lho .... Sehingga ketika meninggalkan tugas yang utama dan mulia ini … ada rasa tidak nyaman dan beban. Merasa kehilangan sesuatu yang sangat besar dan berharga. Agar ketika bel pelajaran berbunyi, … ada getaran yang memaksa magito-gito, terburu-buru, ketergesaan, ada dorongan kuat untuk segera masuk ke kelas. Tidak mau kehilangan waktu sedikitpun dari jam mengajarnya, untuk hal-hal tidak penting dan atau ngobrol tak menentu. .. agar memiliki tanggung jawab besar … bukan pada atasan atau Kepala Sekolah, … tapi pada zat yang Maha Pemberi Rizki, Allah SWT. Yang telah melimpahkan karunia dan nikmat-Nya, berupa Menjadi Guru. Bahwa semuanya nanti akan dipertanggung jawabkan di hadapan-Nya. Selamat hari Guru, semoga tetap dan lebih Semangat .... !
(Taken from : Majalah Jendela "BK Peduli Siswa")
Read more »

Jumat, 11 November 2011

Bulan Pengantin, Musim Hajatan ...

Pagi itu seorang teman perempuan, datang tergopoh-gopoh dengan sepatu dan baju belepotan lumpur. "Habis jatuh dari motor Pak, .. jalan ditutup ada hajatan. Waktu lewat lapangan licin berlumpur, saya nggak bisa menguasai motor saya, .. lalu terpeleset."
Memang, mulai tanggal 27 Oktober 2011 lalu, kalender Hijriyah memasuki bulan Dhulhijjah, dan kalender Jawa memasuki bulan Besar. Bulan atau waktu yang sangat baik bagi seseorang untuk melaksanakan hajatan pernikahan, atau hajatan-hajatan yang lain.
Tak jarang saya dengar kata-kata bernada keluh, tentang meningkatnya pengeluaran di bulan ini untuk keperluan "buwuh" atau sumbangan, hingga keperluan bulan seperti ini bisa meningkat hingga beberapa kali dari bulan-bulan yang lain.
Keluhan lain adalah dari para pengguna jalan. Jalan mesti ditutup dan dialihkan ke jalan alternatif yang kadang jauh lebih jauh. Terlebih bila jalan alternatif itu tidak layak untuk dilalui (rusak, becek dsb). Yang lebih kasihan adalah anak-anak sekolah yang bersepeda pancal, karena rute yang jauh akan membuat waktu tempuh menjadi lebih lama. Dan beresiko membuat mereka terlambat masuk sekolah.
Kejadian serupa yang dialami teman perempuan di awal tulisan ini, juga pernah dialami teman perempuan yang lain tahun lalu. Memang diperlukan kesadaran bagi para penghajat, untuk berlapang dada tidak menutup penuh jalan umum, saat hajatan berlangsung. Minimal jalan masih bisa dilewati sepeda pancal, syukur sepeda motor.
Read more »

Kamis, 10 November 2011

Bayar Pajak Yuk ... !



Tanggal 21 Nopember 2011, tanggal terakhir pembayaran pajak kendaraan. Setelah upacara hari Pahlawan, ijin bayar pajak ke Samsat, sekalian balik nama.
"O inggih Pak, monggo ... ", jawab Bos dengan keramahan luar biasa memberikan ijinnya.
Setelah memarkir kendaraan, menuju loket pembelian Map. Untuk bayar pajak 5 tahunan, sekaligus ganti nama pemilik kendaraan, dikenakan biaya Rp. 14.000. Ini sudah plus kwitansi bermeterai Rp. 6.000. Karena kwitansi sudah disiapkan oleh pemilik kendaraan lama, jadinya yang dipakai yang sudah ada tanda tangannya pemilik lama, yang sudah aku bawa dari rumah. Ada baiknya sebenarnya, petugas menanyakan apakah wajib pajak sudah menyediakan kwitansi bermeterai atau belum. Jika belum, bisa beli di loket sini. Kalo sudah punya, ya, .. nggak perlu lah, ... beli !

Cek fisik kendaraan dilakukan oleh petugas. Ngesek, biasa orang bilang. Setelah
selesai cek fisik dengan biaya Rp. 40.000, berkas dibawa ke loket lain. Di loket ini bayar biaya Pembayaran Permohonan Pembuatan Buku Pemilik Kendaraan Bermotor (BPKB) Rp. 275.000.
Pengisian data adalah langkah selanjutnya. Dengan dipandu oleh bagian informasi yang berpenampilan ramah dan menarik, pengisian data menjadi lebih lancar, dan benar. Untuk jasa pemanduan ini tidak ada biaya.
Berkas dibawa ke loket BPKB untuk pengecekan dan pengesahan. Tidak ada biaya untuk ini.
Berikutnya ke loket pembayaran. Berkas diantrikan, menunggu panggilan dari bagian Kasir. Kurang lebih 50 menit menunggu, bagian Kasir memanggil. "Berapa biayanya Pak ?" tanyaku pada petugas. "Satu juta tiga ratus sebelas ribu Pak .. " Jawab beliau. Kubayar dengan uang pas. Kubaca rincian di lembar Bukti Pembayaran Pajak :
  1. BBN KB     = Rp. 461.000
  2. PKB           = Rp. 691.500
  3. SWDKLLJ  = Rp. 143.000
  4. Jumlah       = Rp. 1.295.500
  5. ditambah parkir berlangganan Rp. 5.500
"Ambil STNK di bagian paling timur Pak, .. " kata bapak petugas kasir. Di meja paling timur, aku berikan tanda pembayaran pajak tadi ke seorang perempuan berpakaian polwan. Dan STNKB pun diberikan. "Plat nomor di bagian belakang Pak .. " kata petugas tadi. "Untuk BPKB bisa diambil 3 bulan lagi, di Polres ... " jelas Mbak Polwan.
Di bagian pembuatan plat nomor, STNK saya tumpuk di antrian. Sekitar 10 menit proses pembuatan plat nomer selesai. "Lima ribu Pak ... " kata petugas pembuat sambil memberikan plat nomor kendaraan saya ...
Read more »

Selasa, 08 November 2011

Bertetes Darah Istri Terkasih








Idhul Adha, hari raya Qurban tahun ini mengingatkan pada 5 tahun yang lalu saat kelahiran anak kedua kami, Hauzan, yang kelahirannya cukup membuat kami berdua cemas, was-was dan takut karena posisi bayi yang APB, Ari-ari Posisi Bawah. Dua kali istri harus masuk rumah sakit akibat pendarahan yang dialami. Terakhir, malam itu adalah malam takbiran. Besuk paginya mendapat tugas khotib di sekolahan. Sedang asyiknya mempersiapkan materi buat besuk, ketika dikejutkan rintihan istri di sela istighfarnya. Darah yang menggumpal cukup banyak dan cukup membuat panik. Ya, .. malam itu .. istri terkasih harus menginap di rumah sakit. 
Kelahiran anak kedua pun seperti kelahiran anak pertama, DI RUMAH SAKIT. Tanpa ada kemampuan saya sebagai suami mendampingi saat-saat paling monumental itu, ... dalam hidup kami.
Dan, .. ketika membuka "Jendela Keluarga" di "Hidayatullah", .. untaian buah pena Bapak Fauzil Adhim yang menyentuh .. berkisah tentang betapa seorang istri sangat membutuhkan kehadiran suami terkasih di saat-saat istri melahirkan, .. saya pun tertarik untuk melampirkannya dalam postingan ini ...

Dan inilah, buah tangan beliau ...... dengan judul asli "Setetes Darah Istri Tercinta"


SUBUH itu kami baru saja menikmati sahur pertama bulan Ramadhan, ketika tiba-tiba istri saya mengeluh sakit perutnya. Sempat muncul tanda tanya apakah istri saya akan melahirkan, tetapi kami sempat ragu karena HPL-nya masih 11 hari lagi. Agar tak salah penanganan, kami segera memeriksakan diri ke bidan terdekat di Tambak¬beras, Jombang. Ternyata, bidan Sri Subijanto melarang pulang. “Sudah bukaan lima,” kata Bu Sri.Bu Sri mendampingi beberapa saat. Barangkali dirasa masih agak lama, Bu Sri meninggalkan ruangan bersalin. Meski hanya sebentar, tapi ternyata inilah saatnya bayi saya lahir. Dengan ditemani seorang pembantu bidan dan Bu Lik (tante), saya mendampingi istri melewati saat-saat yang mendebarkan. Di saat-saat terakhir, istri saya nyaris kehabisan tenaga. Tak berdaya. Ingin sekali saya mengusap keringat di keningnya, tetapi tak ada saputangan di saku saya. Lalu, saya coba menggenggam tangannya untuk memberi kekuatan psikis. Saya tak tahu apa yang terjadi pada dirinya. Tapi saya lihat ada semangat yang bangkit lagi. Sedangkan di matanya, kulihat airmata yang hampir menetes.

Saya ingin sekali rasanya berlari memanggil bidan, tapi tak tega meninggalkannya. Saya hanya berharap Allah akan memberi pertolongan. Alhamdulillah, hanya satu jam di ruang bersalin, anak saya lahir. Seorang laki-laki.

Tidak sedih, tidak gembira. Hanya perasaan haru yang menyentuh ketika saya membersihkan kain yang penuh dengan darah dan kotoran istri. Setetes darah istriku telah mengalir untuk lahirnya anakku ini. Ia merelakan rasa sakitnya untuk melahirkan. Ia telah mempertaruhkan nyawa untuk keselamatan anaknya. Maka, apakah aku akan membiarkan anak-anakku hanya tumbuh besar begitu saja tanpa pendidikan yang betul-betul baik dan terarah? Rasanya, terlalu berharga pengorbanan istriku jika aku tak serius membesarkan anak-anak yang dilahirkannya.

Diam-diam kupandangi anakku. Ingin kusentuh ia dengan tanganku. Tetapi aku harus bersabar dulu. Setelah asisten bidan selesai mengurusinya, kurengkuh ia dalam pelukanku. Lalu kuperdengarkan di telinganya azan dan iqamah yang kuucapkan dengan suara terbata-bata. Semoga ucapan awal ini membekas dalam hati dan jiwanya, sehingga kalimat ini memberi warna bagi kehidupannya. Konon ungkapan-ungkapan awal pada masa komunikasi pra-simbolik ini akan banyak menentukan anak di masa-masa beri¬kutnya. Begitu bunyi teori komunikasi anak yang pernah saya pinjam saat menulis buku Bersikap terhadap Anak (Titian Ilahi Press, Jakarta, 1996).

Sekali lagi kupandangi anakku. Tubuhnya yang masih sangat lemah, terbungkus kain yang saya bawa dari rumah. Hatiku terasa gemetar melihatnya. Saya teringat, ada satu peringatan Allah agar tidak meninggalkan generasi yang lemah. Allah Ta’ala meng¬gunakan perkataan, “… hendaklah kamu takut….” Tetapi saya dapati dalam diri saya, masih amat tipis rasa takut itu. Lalu dengan apa kujaminkan nasib mereka jika rasa ta¬kut ini masih belum menebal juga? Ya Allah, tidak ada Tuhan kecuali Engkau, dan aku dapati diriku ini masih termasuk orang-orang yang zalim.

Diam-diam kupandangi anakku sekali lagi. Kuusap-usap kepalanya. Kukecup keningnya, seraya dalam hati aku mohonkan kepada Allah keselamatan dan kemuliaan hidupnya. Pengalaman menemani istri di detik-detik persalinannya telah mengajarkan kepadaku sesuatu yang sangat berharga, “Anak yang dilahirkan dengan darah dan air¬mata ini, jangan pernah disia-siakan. Ibu yang melahirkan anak ini, jangan pernah dinis¬takan.” Mereka adalah amanat yang telah kuambil dengan kalimat Allah, dan semoga Allah memampukanku untuk mempertanggungjawabkannya di hari kiamat kelak.

Setelah merasakan pengalaman mendampingi detik-detik persalinan istri, saya merasa sangat heran terhadap para suami yang masih tega menampar istri atau menyia-nyiakan anaknya. Saya juga merasa sangat heran terhadap sebagian rumah sakit yang masih saja melarang suami terlibat langsung dalam proses persalinan istrinya, sebagaimana ketika istri saya melahirkan anak pertama saya di Kendari. Padahal keterlibatan suami dalam proses persalinan dari awal sampai akhir, sangat besar manfaatnya. Baik bagi istri maupun bagi hubungan ayah dengan anak.

Kedekatan psikis (attachment) antara ayah dengan anak akan lebih mudah terben¬tuk apabila ayah berkesempatan menyaksikan secara langsung detik-detik persalinan itu. Di sisi lain, saya kira seorang istri akan merasa sangat berbahagia kalau suaminya bersedia men¬dampinginya di saat ia sangat membutuhkan dukungan psikis dan kehangatan perhatian.

Saya tidak tahu apakah istri saya lebih bahagia dengan kehadiran saya mendampinginya. Tetapi saya kira Anda –para ummahat— akan lebih senang jika suami Anda bersedia mendampingi persalinan Anda. Bagaimana?


Taken from Hidayatullah


Sabtu, 05 November 2011

oleh: Mohammad Fauzil Adhim 

Muhammad Fauzil Adhim, penulis buku-buku parenting



Read more »

Slide

Picture Talk More Slideshow: Anang’s trip to Kabupaten Nganjuk (near Kediri), Java, Indonesia was created by TripAdvisor. See another Kediri slideshow. Create a free slideshow with music from your travel photos.
Anang Dwijo Suryanto. Diberdayakan oleh Blogger.

 
Powered by Blogger