free counters


My site is worth $2022.1.
Berapa harga Blog/Web Anda?

WHO KNOWS, WHO IS ACTUALLY THE GREAT AND THE MOST TERRORIST IN THE WORLD ?

Kamis, 31 Mei 2012

Ujian Nasional 2011/2012 Sebuah Kronologi

Hari Pertama
Pengarahan Ketua Penyelenggara, yang merupakan kepanjangan pengarahan sebelumnya, mohon siswa yang diawasi diasumsikan sebagai siswa sendiri. Tidak ada sekat ini siswa sekolah saya atau bukan. Mohon dibina suasana yang kondusif yang mengarah pada siswa tenang dalam mengerjakan soal-soal. Tidak strenght/spaneng. Untuk menegakkan aturan dan untuk menjaga hal-hal yang tidak diinginkan, saya coba beri masukan pada panitia agar ada himbauan dari ketua Penyelenggara (Kepala Sekolah) yang agak keras agar Pengawas Ujian tidak membawa HP ke ruang ujian. Ternyata masukan tidak dilaksanakan. Dan di tempat penitipan HP hanya ada 2 HP, dari 13 pengawas yang bertugas. Alasan baru esok hari disampaikan, "Bapak Kepala Sekolah sungkan Pak", kata panitia. Dan ketika hal ini saya diskusikan dengan istri di rumah, "Ya .. mungkin mereka juga khawatir Yah, .. kalo ditegasi nggak boleh bawa HP, nanti berimbas pada pola pengawasan yang jadi ketat, .. kan kasihan siswa ..", .. begitu argumen perkiraan istri saya.
Siswa nampak tertib dan sedikit agak tegang. Tidak ada peserta yang membawa HP atau alat elektronik lain. Saat membagi naskah sesuai denah yang ada di sampul soal, partner pengawas menyela agar dia yang membacakan denah, sementara saya yang membagikan. Dengan sedikit galau dan ragu saya iyakan keinginannya. Tentu saja dengan mudah peserta ujian langsung mengetahui, sama dengan siapa saja paket soal saya, sehingga memudahkan untuk bekerja sama. Overall pelaksanaan berjalan tertib. Siswa tertib, mandiri dan jujur.

Hari Kedua
Tertib tenang di awal. Berkaca pada hari pertama, soal saya bagikan sendiri berpedoman pada denah yang ada. Saya tolak dengan halus saat teman pengawas meminta denah untuk dibacakan. "Oh ... nggak usah Bu, ... nanti anak-anak dengar dan langsung tahu posisi paket soal temannya.
Di menit-menit akhir suasana agak tidak tertib. Para peserta mulai ada keberanian untuk bertanya pada temannya dengan agak ekspresif. Terbiasa dengan pengawasan ujian yan tertib dan ketat, idealisme ini menjadi terusik. Terlebih ketika mata ini tanpa sengaja menatap pada lembaran yang berisi ikrar Pernyataan, .. Pakta Integritas. Sebuah pernyataan dari pengawas yang baru saja saya tandatangani yang isinya salah satunya adalah "tidak memberikan kesempatan pada peserta untuk bekerja sama", dan apabila melanggar bersedia mendapat sanksi dari mulai moral, administratif sampai sanksi hukum ! Wah, .. berat rasanya hati iniketika berikrar dengan kesungguhan hati, dengan Allah SWT sebagai saksi, jelas nurani ini membantah ketika diri akan abai.
Dan saya pun terpaksa bacakan ikrar itu di hadapan para peserta ujian.
Bahwa pengawas pun dituntut berikrar dengan segala sanksi yang siap dihadapi, dengan harapan agar para peserta bisa tertib mengerjakan soal dg mandiri dan yang terpenting ada penghargaan bahwa 2 orang di hadapannya adalah pengawas yang bertugas mengawasi jalannya ujian di ruang ini yang dibayar Rp. 30.000 potong pajak perharinya yang memiliki kewenangan penuh terhadap jalannya ujiian dalam ruangan. Bahwa peserta pun juga berikrar "Saya mengerjakan ujian secara jujur" di LJUN nya. Bahwa soal sengaja dibuat 5 paket berbeda agar peserta tidak saling diskusi saat ujian, agar celah-2 kecurangan dapat ditutup. Agar karakter jujur benar-2 diterapkan dan dikembangkan. Saya tidak berpikir dan peduli bagaimana tanggapan peserta ujian dan mungkin juga partner pengawas, atas ceramah-2 saya ini.
Yang terpenting bagi saya, saya coba sadarkan betapa bagaimana Ujian Nasional yang dibiayai dg dana rakyat yang bermilyard-milyard ini harusnya berlangsung. Dan bicara masalah jujur saat ujian nasional ini, saya sangat salut dan setuju dg motto ujian kali ini, "JUJUR BERPRESTASI !". Namun sayang, saat pelaksanaan ujian yang jujur ini tidak didukung (kasuistis) pra pelaksanaannya.
Justeru ketidakjujuran, artificially nilai sudah berawal jauh sebelum Ujian Nasional. Ini bisa dilihat misalnya ketika saat ujian sekolah, beberapa sekolah, sebagai upaya membantu siswa dg menaikkan KKM (nilai minimal) tanpa prosedur resmi hingga sampai pada nilai 85, misalnya, atau lebih, berbeda satu anak dg yg lain, sesuai kebutuhan dengan harapan bisa membantu nilai siswa untuk kelulusan ketika harus digabung dg nilai Ujian Nasional. Atau yang lebih konyol, karena paranoidme, jika nanti jangan-2 ada kroscek pengecekan antara nilai dg lembar jawabannya, maka ada pekerjaan ekstra bagi para korektor atau panitia, untuk mengganti jawaban siswa.
Atau karena sejatinya Guru Mata Pelajaran Emas Unas tidak diperkenankan mengawasi atau menjadi panitia penyelenggara Ujian Nasional, karena jumlah guru yg ada tidak mencukupi, maka di SK Pembagian Tugas Panitia dan Pengawas Ujian, data "mengajar mata pelajaran" mereka pun diganti/direkayasa  dg atau menjadi guru mapel non nas, seperti Matematika diganti IPS dll. Ini kan bentuk ketidakjujuran ?
Usai mengawasi, buka HP, baca sms : "Tutup mata, buka hati & perasaan, saat mengawasi Ujian Nasional". Dan ini yg lebih memprihatinkan, ketika sms datang dari teman di pelosok pulau mengabarkan, bahwa panitia sekolah sudah mendapatkan paket jawaban, dan tinggal menyebarkan pada siswa. Setelah diteliti, pada kisaran 90%, jawaban tersebut benar.

Hari Ketiga
Dalam arahannya Bapak Ketua Penyelenggara berterima kasih atas lancar & suksesnya pelaksanaan ujian selama 2 hari kemaren. Mohon pembagian soal sesuai denah agar lebih berhati-2, karena ada kasus kesalahan sehubungan dg hal ini. Ada kejadian sesampai di rumah kemaren, yang menginspirasi untuk lebih berhati-2. Keponakan yg juga ujian, menyatakan bahwa dia masih bisa dg mudah mendeteksi paket soal milik temannya dg melihat di daftar hadir peserta. Karena itu, penulisan paket soal peserta di daftar hadir, saya tulis sendiri setelah semua peserta ujian selesai tanda tangan daftar hadir. Dan efek dari langkah saya adalah, begitu waktu mengerjakan dimulai, yang dilakukan para peserta bukanlah segera membaca & mengerjakan soal, tetapi menanyakan paket soal milik temannya. "Ah, .. dasar siswa tidak punya Self Confidence, Krisis Kemandirian !"
Ketika hal metode pembagian soal sesuai denah versi saya ini saya sampaikan pada partner pengawas, katanya "Kadang anu lho Pak, .. justru sekolah-2 tertentu & juga pengawasnya membagi dg metode sebaliknya, agar peserta ujian justeru dg mudah tahu kode paket soalku sama dg siapa. Hal ini senada dg teman guru yg mengawasi di sekolah lain, di mana Kepala Sekolah selaku Ketua Penyelenggara mengarahkan, untuk alasan pengecekan apakah pembagian soal sudah sesuai atau belum, maka pengawas diminta bertanya pada peserta, "Tolong, .. paket A angakt tangan, .. Paket B ... dst ..." .. He he he .. lucu dan konyol ya ?
Di hari ketiga ini pun partner pengawas juga menawarkan untuk mendiktekan denah, tapi saya tolak & saya bagikan sendiri lembar soal. Lebih mudah, praktis & tidak bising. Para peserta terlihat mulai tak begitu menganggap adanya kami di depannya. Mereka dg berani & seenaknya bertanya ke sana kemari. Mungkin ini efek dari longgarnya pengawasan 2 hari sebelumnya. Seperti hari pertama dan kedua, Ujian kami akhiri dg doa bersama & permohonan maaf, .. "Anak-2ku, .. kami berdua, jika selama 120 menit bersama kalian di ruang ini ada salah & khilaf, .. kami mohon maaf. Doa kami, .. semoga kalian semua sukses ..."

Hari keempat
Ketua Penyelenggara meneruskan amanat & pesan dari Dinas, agar pengawas tidak membawa HP ke ruang ujian, dengan suara rendah bernada sungkan.
Alhamdulillah, ... hari terakhir ini berperan sebagai pengawas cadangan. Terhindar dari konflik batin yg melelahkan ...
Read more »

Sabtu, 24 Maret 2012

Kidung Anakku

"Besuk ujian prakteknya apa Mbak Nuzi ?"
"Bahasa Jawa Yah ... baca puisi" dan anak saya pun asyik dengan hapalan kidungan Jawa nya untuk persiapan praktik besuk. Sambil glethakan di tempat tidur, atau mondar-mandir antara ruang tamu, kamar mandi, atau dapur. Tema puisi yang menyentuh dengan pembawaan yang bagi saya sangat menjiwai, dengan nada dan intonasi yang mendayu, betul-betul mampu membuat hati ini tergetar dan mata berkaca-kaca. Kidung yang akhirnya menjadi nada dering sms HP Ibunya, dan menjadi suara membangnkan Ayahnya yang berdering di tiap jam 02.30. untuk bermunajad ke haribaan Ilahi Rabbi. Demikian juga dengan Aung nya yang berada di sampingnya, yang karena kepeduliannya, meminta Mbak Nuzi anak saya untuk membacakan dan disimak oleh beliau, dengan mata berkaca dalam terawangnya.
Dan inilah kutipan puisi Jawa itu :

BEKTIKU

Ibu, ...
Tansah kelingan tresnamu, ...
marang aku, ..
Rama, ..
Ayomanmu, ..
ndadekake tentrem atiku.
Sejatine aku, ..
bangga dadi putrimu.
Mungguwing wektu, ..
ndadekake rena penggalihmu.
Kepingin aku ngabekti, ..
marang wong tuwa, ..
lan Ibu Pertiwi.
Tansah ngupadi gegayuhan, ..
mratandha asile kapinteran ...
Duh Gusti Allah murbeng jagad, ..
paringi ganjaran marang wong tuwa
Duh Gusti Allah, ..
paringi wekdal, 
nduduhake bektiku.
Mujur lan seneng, ..
ing penggalihe keluargaku.
Duh Gusti Allah, ..
dumateng Panjenengan,
kula nenuwun.

Untuk unduh Kidung Mbak Zik, bisa Klik sini
(Putar pakai KMPlayer)
Read more »

Tolak RUU Kesetaraan Gender

Prihatin pada ide gila dan konyol para aktifis liberal yang berusaha menandingi kekuasaan Allah dalam mengatur tata kehidupan manusia, mendorong mempublikasikan karya persuasif, ilmiah logis, dan mendasarkan semua hal pada aturan Allah, Dr. Adian Husaini untuk mengcounter pikiran tidak waras dan bodoh mereka mengusung kesetaraan gender.

Adegan konyol & lucu, seorang imam sholat wanita, memimpin jama'ah laki-laki
 Sabtu, 24 Maret 2012

Oleh: Dr. Adian Husaini

HARIAN Republika (Jumat, 16/3/2012), memberitakan, bahwa Rancangan Undang-undang Keadilan dan Kesetaraan Gender (RUU KKG) sudah mulai dibahas secara terbuka di DPR. Suara pro-kontra mulai bermunculan. Apakah kita – sebagai Muslim – harus menerima atau menolak RUU KKG tersebut?

Jika menelaah Draf RUU KKG/Timja/24/agustus/2011 -- selanjutnya kita sebut RUU KKG – maka sepatutnya umat Muslim MENOLAK draf RUU ini. Sebab, secara mendasar berbagai konsep dalam RUU tersebut bertentangan dengan konsep-konsep dasar ajaran Islam. Ada sejumlah alasan yang mengharuskan kita – sebagai Muslim dan sebagai orang Indonesia – menolak RUU KKG ini.
Pertama, definisi “gender” dalam RUU ini sudah bertentangan dengan konsep Islam tentang peran dan kedudukan perempuan dalam Islam. RUU ini mendefinisikan gender sebagai berikut: “Gender adalah pembedaan peran dan tanggung jawab laki-laki dan perempuan yang merupakan hasil konstruksi sosial budaya yang sifatnya tidak tetap dan dapat dipelajari, serta dapat dipertukarkan menurut waktu, tempat, dan budaya tertentu dari satu jenis kelamin ke jenis kelamin lainnya.” (pasal 1:1)
Definisi gender seperti itu adalah sangat keliru. Sebab, menurut konsep Islam, tugas, peran, dan tanggung jawab perempuan dan laki-laki baik dalam keluarga (ruang domestik) maupun di masyarakat (ruang publik) didasarkan pada wahyu Allah, dan tidak semuanya merupakan produk budaya.
Tanggung jawab laki-laki sebagai kepala keluarga dan pencari nafkah keluarga adalah berdasarkan wahyu (al-Quran dan Sunnah Rasul). Sepanjang sejarah Islam, di belahan dunia mana saja, tanggung jawab laki-laki sebagai kepala keluarga sudah dipahami, merupakan perkara yang lazim dalam agama Islam (ma’lumun minad din bid-dharurah). Bahwa yang menjadi wali dan saksi dalam pernikahan adalah laki-laki dan bukan perempuan. Ini juga sudah mafhum.
Karena berdasarkan pada wahyu, maka konsep Islam tentang pembagian peran laki-laki dan perempuan itu bersifat abadi, lintas zaman dan lintas budaya. Karena itu, dalam tataran keimanan, merombak konsep baku yang berasal dari Allah SWT ini sangat riskan. Jika dilakukan dengan sadar, bisa berujung kepada tindakan pembangkangan kepada Allah SWT. Bahkan, sama saja ini satu bentuk keangkuhan, karena merasa diri berhak menyaingi Tuhan dalam pembuatan hukum. (QS at-Taubah: 31).
Jadi, cara pandang yang meletakkan pembagian peran laki-laki dan perempuan (gender) sebagai budaya ini jelas bertentangan dengan ajaran Islam. Sebab, sifat syariat Nabi Muhammad saw – sebagai nabi terakhir dan diutus untuk seluruh manusia sampai akhir zaman – adalah universal dan final. Zina haram, sampai kiamat. Khamr haram di mana pun dan kapan pun. Begitu juga suap adalah haram. Babi haram, di mana saja dan kapan saja. Konsep syariat seperti ini bersifat lintas zaman dan lintas budaya.
Syariat Islam jelas bukan konsep budaya Arab. Saat Nabi Muhammad saw memerintahkan seorang istri untuk taat kepada suaminya – dalam hal-hal yang baik – maka perintah Nabi itu berlaku universal, bukan hanya untuk perempuan Arab abad ke-7 saja. Umat Islam sepanjang zaman menerima konsep batas aurat yang universal; bukan tergantung budaya. Sebab, fakta menunjukkan, di mana saja dan kapan saja, perempuan memang sama. Sudah ribuan tahun perempuan hidup di bumi, tanpa mengalami evolusi. Matanya dua, hidung satu, payudaranya dua, dan juga mengalami menstruasi. Perempuan juga sama saja, dimana-mana. Hanya warna kulit dan mungkin ukuran tubuhnya berbeda-beda. Karena sifatnya yang universal, maka konsep syariat Islam untuk perempuan pun bersifat universal.
Memang, tidak dapat dipungkiri, dalam aplikasinya, ada unsur-unsur budaya yang masuk. Misalnya, konsep Islam tentang perkawinan pada intinya di belahan dunia mana saja tetaplah sama: ada calon suami, calon istri, saksi, wali dan ijab qabul.
Tetapi, dalam aplikasinya, bisa saja unsur budaya masuk, seperti bisa kita lihat dalam pelaksaan berbagai upacara perkawinan di berbagai daerah di Indonesia.
Alasan kedua untuk menolak RUU Gender sangat western-oriented. Para pegiat kesetaraan gender biasanya berpikir, bahwa apa yang mereka terima dari Barat – termasuk konsep gender WHO dan UNDP – harus ditelan begitu saja, karena bersifat universal. Mereka kurang kritis dalam melihat fakta sejarah perempuan di Barat dan lahirnya gerakan feminisme serta kesetaraan gender yang berakar pada ”trauma sejarah” penindasan perempuan di era Yunani kuno dan era dominasi Kristen abad pertengahan.
Konsep-konsep kehidupan di Barat cenderung bersifat ekstrim. Dulu mereka menindas perempuan sebebas-bebasnya, sekarang mereka membebaskan perempuan sebebas-bebasnya. Dulu, mereka menerapkan hukuman gergaji hidup-hidup bagi pelaku homoseksual. Kini, mereka berikan hak seluas-luasnya bagi kaum homo dan lesbi untuk menikah dan bahkan memimpin geraja.
Lihatlah, kini konsep keluarga ala kesetaraan gender yang memberikan kebebasan dan kesetaraan secara total antara laki-laki dan perempuan telah berujung kepada problematika sosial yang sangat pelik. Di Jerman, tahun 2004, sebuah survei menunjukkan, pertumbuhan penduduknya minus 1,9. Jadi, bayi yang lahir lebih sedikit dari pada jumlah yang mati.
Peradaban Barat juga memandang perempuan sebagai makhluk individual. Sementara Islam meletakkan perempuan sebagai bagian dari keluarga. Karena itulah, dalam Islam ada konsep perwalian. Saat menikah, wali si perempuan yang menikahkan; bukan perempuan yang menikahkan dirinya sendiri. Ini satu bentuk pernyerahan tanggung jawab kepada suami. Di Barat, konsep semacam ini tidak dikenal. Karena itu jangan heran, jika para pegiat gender biasanya sangat aktif menyoal konsep perwalian ini. Sampai-sampai ada yang menyatakan bahwa dalam pernikahan Islam, yang menikah adalah antara laki-laki (wali) dengan laki-laki (mempelai laki-laki).
Simaklah bagaimana kuatnya pengaruh cara pandang Barat dalam konsep ”kesetaraan gender” seperti tercantum dalam pasal 1:2 RUU Gender yang sedang dibahas saat ini: “Kesetaraan Gender adalah kesamaan kondisi dan posisi bagi perempuan dan laki-laki untuk mendapatkan kesempatan mengakses, berpartisipasi, mengontrol, dan memperoleh manfaat pembangunan di semua bidang kehidupan.” (pasal 1:2).

Renungkanlah konsep semacam ini. Betapa individualistiknya. Laki-laki dan perempuan harus disamakan dalam semua bidang kehidupan. Lalu, didefinsikan juga:

“Diskriminasi adalah segala bentuk pembedaan, pengucilan, atau pembatasan, dan segala bentuk kekerasan yang dibuat atas dasar jenis kelamin tertentu, yang mempunyai pengaruh atau tujuan untuk mengurangi atau menghapuskan pengakuan, penikmatan manfaat atau penggunaan hak asasi manusia dan kebebasan pokok di bidang politik, ekonomi, sosial, budaya, sipil atau bidang lainnya terlepas dari status perkawinan, atas dasar persamaan antara perempuan dan laki-laki.” (pasal 1:4).
Jika RUU Gender ini akan menjadi Undang-undang dan memiliki kekuatan hukum yang tetap, maka akan menimbulkan penindasan yang sangat kejam kepada umat Muslim – atau agama lain – yang menjalankan konsep agamanya, yang kebetulan berbeda dengan konsep Kesetaraan Gender. Misalnya, suatu ketika, orang Muslim yang menerapkan hukum waris Islam; membagi harta waris dengan pola 2:1 untuk laki-laki dan perempuan akan bisa dijatuhi hukuman pidana karena melakukan diskriminasi gender. Jika ada orang tua menolak mengawinkan anak perempuannya dengan laki-laki beragama lain, bisa-bisa di orang tua akan dijatuhi hukuman pula. Bagaimana jika kita membeda-bedakan jumlah kambing untuk aqidah antara anak laki-laki dan perempuan?
Alasan ketiga, RUU Gender ini sangat SEKULAR. RUU ini membuang dimensi akhirat dan dimensi ibadah dalam interaksi antara laki-laki dan perempuan. Peradaban sekular tidak memiliki konsep tanggung jawab akhirat. Bagi mereka segala urusan selesai di dunia ini saja. Karena itu, dalam perspektif sekular, ”keadilan” hanya diukur dari perspektif dunia. Bagi mereka tidaklah adil jika laki-laki boleh poligami dan wanita tidak boleh poliandri. Bagi mereka, adalah tidak adil, jika istri keluar rumah harus seijin suami, sedangkan suami boleh keluar rumah tanpa izin istri.
Bagi mereka, tidak adil jika laki-laki dalam shalatnya harus ditempatkan di shaf depan. Dan sebagainya. Jika seorang perempuan terkena pikiran seperti ini, maka pikiran itu yang perlu diluruskan terlebih dulu. Biasanya ayat-ayat al-Quran dan hadits Rasulullah saw tidak mempan bagi mereka, karena ayat-ayat itu pun akan ditafsirkan dalam perspektif gender. Sebenarnya, perempuan yang kena paham ini patut dikasihani, karena mereka telah salah paham. Mereka hanya melihat aspek dunia. Hanya melihat aspek hak, dan bukan aspek tanggung jawab dunia dan akhirat.
Padahal, dalam perspektif Islam, justru Allah memberi karunia yang tinggi kepada perempuan. Mereka dibebani tanggung jawab duniawi yang lebih kecil ketimbang laki-laki. Tapi, dengan itu, mereka sudah bisa masuk sorga, sama dengan laki-laki. Perempuan tidak perlu capek-capek jadi khatib Jumat, menjadi saksi dalam berbagai kasus, dan tidak wajib bersaing dengan laki-laki berjejalan di kereta-kereta. Perempuan tidak diwajibkan mencari nafkah bagi keluarga. Dan sebagainya.
Sementara itu, kaum laki-laki mendapatkan beban dan tanggung jawab yang berat. Kekuasaan yang besar juga sebuah tanggung jawab yang besar di akhirat. Jika dilihat dalam perspektif akhirat, maka suami yang memiliki istri lebih dari satu tentu tanggung jawabnya lebih berat, sebab dia harus menyiapkan laporan yang lebih banyak kepada Allah. Adalah keliru jika orang memandang bahwa menjadi kepala negara itu enak. Di dunia saja belum tentu enak, apalagi di akhirat. Sangat berat tanggung jawabnya.
”Dimensi akhirat” inilah yang hilang dalam berbagai pemikiran tentang ”gender”. Termasuk dalam RUU Gender yang sedang dibahas di DPR. Perspektif dari RUU ini sangat sekuler. (saeculum=dunia); hanya menghitung aspek dunia semata. Jika dimensi akhirat dihilangkan, maka konsep perempuan dalam Islam akan tampak timpang. Sebagai contoh, para aktivis gender sering mempersoalkan masalah ”double burden” (beban ganda) yang dialami oleh seorang perempuan karir.
Disamping bekerja di luar rumah, dia juga masih dibebani mengurus anak dan berbagai urusan rumah tangga. Si perempuan akan sangat tertekan jiwanya, jika ia mengerjakan semua itu tanpa wawasan ibadah dan balasan di akhirat. Sebaliknya, si perempuan akan merasa bahagia saat dia menyadari bahwa tindakannya adalah satu bentuk ibadah kepada Allah SWT.
Karena itu, jika Allah tidak memberi kesempatan kepada perempuan untuk berkiprah dalam berbagai hal, bukan berarti Allah merendahkan martabat perempuan. Tapi, justru itulah satu bentuk kasih sayang Allah kepada perempuan. Dengan berorientasi pada akhirat, maka berbagai bentuk amal perbuatan akan menjadi indah. Termasuk keridhaan menerima pembagian peran yang diberikan oleh Allah dan Rasul-Nya.
Pada akhirnya, dalam menilai suatu konsep – seperti konsep Kesetaraan Gender – seorang harus memilih untuk menempatkan dirinya: apakah dia rela menerima Allah SWT sebagai Tuhan yang diakui kedaulatannya untuk mengatur hidupnya? Seorang Muslim, pasti tidak mau mengikuti jejak Iblis, yang hanya mengakui keberadaan Allah SWT sebagai Tuhan, tetapi menolak diatur oleh Allah SWT. Seolah-olah, manusia semacam ini berkata kepada Allah SWT: ”Ya Allah, benar Engkau memang Tuhan, tetapi jangan coba-coba mengatur hidup saya! Karena saya tidak perlu segala macam aturan dari-Mu. Saya sudah mampu mengatur diri saya sendiri!” Na’dzubillahi min-dzalika.

****
Tidak bisa dipungkiri, penyebaran paham ”kesetaraan gender” saat ini telah menjadi program unggulan dalam proyek liberalisasi Islam di Indonesia. Banyak organisasi Islam yang memanfaatkan dana-dana bantuan sejumlah LSM Barat untuk menggarap perempuan-perempuan muslimah agar memiliki paham kesetaraan gender ini. Perempuan muslimah kini didorong untuk berebut dengan laki-laki di lahan publik, dalam semua bidang. Mereka diberikan angan-angan kosong, seolah-olah mereka akan bahagia jika mampu bersaing dengan laki-laki.
Kedepan, tuntutan semacam ini mungkin akan terus bertambah, di berbagai bidang kehidupan. Sesuai dengan tuntutan pelaksaan konsep Human Development Index (HDI), wanita dituntut berperan aktif dalam pembangunan, dengan cara terjun ke berbagai sektor publik. Seorang wanita yang dengan tekun dan serius menjalankan kegiatannya sebagai Ibu Rumah Tangga, mendidik anak-anaknya dengan baik, tidak dimasukkan ke dalam ketegori ”berpartisipasi dalam pembagunan”. Tentu, konsep semacam ini sangatlah aneh dalam perspektif Islam dan nilai-nilai tradisi yang juga sudah dipengaruhi Islam.
Daripada bergelimang ketidakpastian dan dosa, mengapa pemerintah dan DPR tidak mengajukan saja ”RUU Keluarga Sakinah” yang jelas-jelas mengacu kepada nilai-nilai Islam? Buat apa RUU Gender diajukan dan dibahas? Dari tiga naskah akademik yang saya baca, tampak tidak ada dasar pemikiran yang kuat untuk mengajukan RUU Kesetaraan Gender ini. RUU ini cenderung membesar-besarkan masalah, dan lebih menambah masalah baru. Belum lagi jika RUU ini melanggar aturan Allah SWT, pasti akan mendatangkan kemurkaan Allah SWT.
Tugas kita hanya mengingatkan! Wallahu a’lam bil-shawab.*/ Jakarta, 16 Maret 2012

Ketua Program Studi Pendidikan Islam—Program Pasca Sarjana Universitas Ibn Khaldun Bogor). Catatan Akhir Pekan (CAP) bekerjasama antara Radio Dakta 107 FM dan hidayatullah.com
Ilustrasi: Tokoh Islam liberal, Dr Aminah Wadud menjadi imam shalat yang campur-aduk, di mana makmumnya pria
Read more »

Selasa, 06 Maret 2012

Ikung, Eyang Kakung yang Workaholic

Sungguh jauh dari bayangan ketakutan sebagian orang yang berada pada kondisi MPP (Masa Persiapan Pensiunan) Ketakutan akan Post Power Syndrome. Tentang kegiatan apa yang nantinya akan dijalani selepas pensiun oleh Bapak saya, beberapa saat sebelum tahun 2000. Karena tahun 2000 beliau pensiun dari PNS.
Masa pensiun yang dipenuhi rencana dengan lebih fokus pada ibadah, ... aktifitas sebagai takmir masjid di sebelah rumah, ternyata tak bisa sepenuhnya terlaksana. Pengalaman memberikan jasa layanan bantuan mengurus pensiunan teman dan tetangga ketika masih aktif menjadi Pegawai Negeri Sipil membawa pada kegiatan baru bagi Bapak yang bila beliau berkenan memasang papan iklan di depan rumah, tentunya akan begini bunyinya :

M.OEMARY & Co.
Melayani jasa pengurusan pensiunan macet,
mengurus KTP, ASKES, NPWP 
juga amprah hutang Bank.
Untuk info hub. : 081 17081944
  
Hari-hari beliau lalui layaknya seorang pegawai kantor bahkan lebih. Pagi sebelum jam 06.00 kadang dengan sepeda motor gaulnya karena sempat dipretheli dan dimodif oleh cucunya yang di jurusan mesin SMK, sudah pergi menemui kliennya untuk kelengkapan berkas.
Malam-malam tak jarang beliau masih berkutat dengan tumpukan-tumpukan berkas yang harus diselesaikan dan dipersiapkan untuk besuk pagi.
Tak terasa sudah 12 tahun profesi itu digeluti. Ruang gerak Bapak pun tak hanya sebatas di rumah dan dalam kota saja, tetapi telah merambah juga pada skala antar kota antar propinsi. Beberapa kali beliau harus ke Surabaya atau ke Jakarta. Ya .. ibukota republik ini sudah beberapa kali beliau kunjungi. Sementara saya anaknya, hingga saat ini belum sekali pun pernah menginjakkan kaki ke kota ini. Bidang garap beliau pun tak lagi hanya mengurus pensiunan yang macet namun juga KTP, NPWP, ASKES, atau bahkan ketika ada orang yang akan pinjam uang ke bank pun, meminta jasa beliau dalam pengurusannya. Maka jadilah Bapak yang kakek bagi Hauzan dan Mbak Nuzi ini, kakek yang sibuk bekerja. Yang masih tangkas mengendarai sepeda motor dengan tanpa mengenakan jaket meski sering diingatkan, atau helm dengan alasan jarak bepergiannya tidak jauh dan hanya melewati polisi tidur, dan tidak melewati pos polisi.
Ya, ... Bapak yang seluruh rambut yang ada di dirinya telah memutih, .. rambut di kepala, alis, rambut di hidung, kumis, jenggot dan juga rambut di tangannya yang terlihat legam tapi masih nampak sangat kekar dan kokoh, ..
Bapak yang pendengarannya sudah jauh berkurang karena saat mudanya ketika mandi di sungai, kepalanya terbentur batu. Yang meski pendengarannya berkurang cukup drastis tapi tidak pernah mau memakai alat bantu dengar. "Nrimo opo eneke wae, paringe Gusti Allah." Begitu argumentasi beliau.
Bapak yang di usia sepuh, penglihatannya masih relatif sehat dan normal. Demikian juga dengan giginya yang masih utuh dan kuat serta masih suka makan "Balung Kethek" kesukaannya. Gigi yang masih kuat dan utuh serta berwarna kemerahan karena kebiasaan "Nginang" nya ketika masih muda dulu.
Bapak yang senantiasa membiasakan tiap hari membaca Qur'an Surat Waqingah, begitu beliau melafalkan, serta surat Yasin pada hari hari-hari tertentu, di samping kebiasaan mengaji Qur'an serta terjemahnya dalam bahasa Jawa, yang sangat mengesankan istri saya ketika mendengarnya.
Bapak yang perasaan dan pikirannya tak bisa diam lama ketika harus pergi meninggalkan untuk beberapa lama, meski kepergiannya dengan Ibuk. Sindrom "mantuk", sindrom segera ingin pulang, bahwa di rumah pekerjaan sudah menanti, sekian tumpuk berkas harus segera diselesaikan, bahwa beliau harus menemui seseorang kliennya terkait dengan pekerjaannya dan sebagainya, yang menjadikan beliau tidak pernah betah atau krasan ketika harus menginap di rumah saudara untuk beberapa lama.
Tak jarang kami putra-putrinya memberikan masukan agar di masa senja beliau, beliau mengurangi aktifitas pikir dan raga, untuk lebih memfokuskan pada ibadah, juga mengingatkan permohonan Mbah Putri, Ibunya Bapak sebelum wafat, yang meminta Bapak agar mencicipi lezatnya "mondok/jaulah". Tapi menurut beliau, kalau beliau mampu melaksanakan keduanya, kenapa tidak ? Wow, .. jawaban yang luar biasa bukan ?
Itulah Bapak saya. Muhammad Oemary Bin Ismail, .. Ikung (Eyang Kakung) dari anak-anak kami, Husnuzia Najmatul Fajri dan Muhammad Hibatullah Hauzan Mahdi, .. yang di usia senjanya masih workaholic, ... ber-etos dan bersemangat kerja tinggi, ... semoga anak-anak dan cucu-cucunya mewarisi semangat beliau.
Yah, ... itulah Bapak, ... Alhamdulillah, ... Allah masih mengaruniai kami kesempatan untuk masih memiliki seorang Bapak, ... juga Ibu, .. sehingga kesempatan berbakti, berkhidmat, ber "birrul walidain", masih terbuka lebar bagi kami ...  anak-anak dan cucu-cucunya.
Semoga Allah memberikan rahmat dan nikmat sehat pada beliau berdua, dan semoga beliau berdua diberi Allah usia yang berkah, .. serta dirahmati dengan keimanan dan ketaqwaan kepada Allah SWT semata ... Amiin ...

Ikung dan Yang Uti bersama Cucu ...
Read more »

Minggu, 04 Maret 2012

Rintih Tangis Mertua Terkasih

Sudah delapan hari dan sembilan malam ini, beliau bersama kami. Beliau yang sudah tinggal hanya berdua dengan istri setia dan tercinta, setelah putri terakhirnya menyelesaikan studi kedokterannya, dan sekarang harus pengabdian di sebuah rumah sakit di Situbondo, dan istri terkasih harus menjenguk Ibu Mertua yang sedang sakit di Tegal, maka jadilah beliau mengisi hari-harinya bersama kami.
Beliau yang keras, tegas, posesif, dan sangat instruksional serta detail dalam memberikan instruksi.
Beliu yang sangat halus perasaannya, yang tak jarang menangis sesenggukan di sela khusyuk sholatnya atau doanya, atau di sela pembicaraan di telepon, atau di tengah asyik beliu bercerita.
Beliau yang sangat peduli dengan kesalahan dan peduli pula membenarkannya.  Beliau yang dengan sebutan ABAH, kami biasa memanggil, dan cucu-cucunya memanggil dengan sebutan AUNG.
Beliau yang telah berhasil mengentas 7 putra-putrinya, dengan bekal ilmu, perhatian, kasih sayang dan didikan kerasnya. Empat orang Guru, seorang pejabat di Telkomsel, seorang Wiraswasta Sukses dan seorang Dokter. Sungguh sesuatu yang membuat orang tua lain ingin memperoleh kebahagiaan seperti ini. Beliau yang sangat menikmati saat-saat menyantap hidangannya.
Beliau yang sangat suka makan dengan sayur yang diberi tambahan vetcin/micin di mangkok sayurnya. Sate, .. tambah vetcin, .. Goreng telur tambah vetcin, ... rawon,.. juga begitu.
Beliau yang tak perlu segan-segan menyampaikan apa yang diingininya pada anak-anaknya. Tidak sedikit orang tua yang sekian kali ditawari sesuatu oleh anaknya dan sekian kali pula menolaknya, walaupun jauh di lubuk hati, mereka kadang menginginkan apa yang ditawarkan kepadanya.
Beliau yang suka mengajar berhitung cucunya yang masih duduk di bangku TK. 3 dikurangi 5 berapa ? Tentu saja cucunya bingung dengan pertanyaan dari Aungnya. Wedangnya 3, Tamunya 5. Wedangnya pas apa kurang ? Kurang nya berapa ? Begitu beliau membuat analogi, .. dan akhirnya sang cucu pun berhasil menjawab pertanyaan Aung nya.
Beliau yang seringkali dan hampir bisa dipastikan, mengakhiri pembicaraan telepon, meskipun beliau dalam posisi ditelepon.
Ya, ... beliau yang dengan segala keluar biasaan dan keluar kebiasaannya itu, .. Beliau mertua tercinta saya, Alhamdulillah, ... Allah memberikan kesempatan kepada kami, khususnya istri saya, untuk berbakti dan berkhidmat kepada beliau. Untuk menerapkan Birrul Walidain kami. Betapa istri saya sangat cekatan, telaten dan penuh ta'zim melayani beliau. Tak pernah ada kata "tidak" keluar dari lisannya. "Nggih Bah, ... Iya Bah ... " Begitu yang selalu saya dengar. Yang terkadang seringkali membuat jeles hati ini. "Aku suaminya, tentu lebih layak, lebih harus, dan lebih bisa mendapatkan yang lebih dari itu. Karena sesungguhnya itulah konsep yang diajarkan Islam", begitulah bisik hati kecil ini bila rasa jeles itu hadir.
Dan hal luar biasa yang menyentuh hati ini adalah ... Betapa selama ini beliau yang tidak pernah jauh berpisah dengan Ibu Mertua, Istri tercinta dan setia, dari perhatian, pelayanan dan khidmatnya, .. namun ketika harus berpisah cukup lama, ternyata beliau mampu dan tak pernah kulihat ada keluh kesah tentang ini. Jika saya bandingkan, .. ketika baru saja beberapa puluh menit saja saya ditinggal istri ke rumah kakaknya yang berjarak 3 rumah dari rumah kami, .. begitu istri pulang, dengan muka tak berkenan lidah ini menyambut dengan pertanyaan .. "Koq lama sich ... nggak pulang-pulang !?" Tak jarang pula saya menyuruh si kecil untuk menyusul agar ibunya cepat pulang.
Malam-malam yang kami lalui, .. ada warna lain di rumah kami. Tiap malam kami dengar suara tangis sesenggukan di mushola rumah kami, tempat beliau mengisi malam-malamnya dengan tahajud. Tangis sesenggukan di sela desahan nafas melantunkan asma Sang Khaliq, Allah SWT, ... Allah .... Allah .... Allah ....
Tak jarang di pagi hari sembari ngunjuk wedang ( minum kopi susu ) beliau tiba-tiba menangis sambil menyebut Allah ... Allah ... Subhanallah ... Atau tiap melangkahkan kaki yang seolah telah terasa berat bagi kakinya yang mulai lemah menahan berat tubuh beliau. Beliau tumpu kan beban berat itu pada Allah, seperti memohon pada Allah kekuatan, .. dengan lantunan "Ya .. Allah ... " nya yang khas.
Seringkali kali pula kami dengar, saat beliau tidur, ya betul-betul sedang tidur beliau saat itu, .. Beliau menggumamkan bahkan terkadang seperti berteriak, .. menyuarakan lafadz Allah ... Allah ... Sungguh hati, jiwa dan perasaan ini menjadi tersentuh, .. Mata pun tak terasa meluruhkan airnya .. satu hal yang saya merasa sangat sulit mengalaminya. Dan saya pun ikut menangis, walau tak sampai sesenggukan.
Betul-betul hati ini sangat iri. Iri ingin memiliki kemampuan merasakan dekatnya dengan Allah, .. takutnya jauh dari Allah ... seperti yang dimiliki oleh beliau.
Ya Allah ... semoga Engkau beri kami hati yang selalu ingat akan Engkau, kapan pun, di mana pun, .. Takut akan jauh dari engkau, .. tanpa harus menunggu masa tua dulu, .. Karena sejatinya kami semua pun tak kan pernah tahu, .. apakah sampai masa itu, bagi kami ....
Read more »

Wawancara dengan Ustadzah Jujun

Sudahlah Mi, .. Ayah koq merasa nggak pernah mau memenuhi keinginannya. Bagaimana kalau kali ini kita beri kesempatan anak kita untuk mewujudkan keinginannya. Sepertinya sih, .. bukan semata karena pengaruh teman-teman, tapi murni karena memang dia ingin mencoba daftar ke sana,...
Maka hari Minggu itu pun, setelah mendaftar secara online sebelumnya, jadilah Mbak Nuzi mengikuti seleksi PSB, yang ternyata harus saya ikuti dengan tes wawancara. Sungguh, ... biaya dan lokasi yang tinggi dan terpencil tidak menyurutkan niat dan langkah para orang tua untuk mencoba mempercayakan pendidikan anaknya ke sini. Ke Ar-Rohmah Islamic Boarding School.
Dan setelah panggilan untuk kartu antrian saya berkumandang, dan kartu saya kumpulkan, panitia yang sepertinya dari unsur siswa, mengajak saya mengikutinya dan mengantarkan pada meja interviewer. Seorang Ustadzah ramah, dengan tatapan sudut matanya yang cukup tajam, dengan seulas senyum tulusnya mempersilakan duduk. Ada suatu atmosfer positif yang membawa pada kehangatan wawancara yang akan berlangsung, yang tak pernah kami sadari apa itu.
Seperti mengetahui yang dihadapi, Ustadzah yang murah senyum ini pun justeru mempersilakan saya menyampaikan sesuatu terkait Mbak Nuzi, tanpa lead formal. "Menurut pemikiran saya sich, .. Insya Allah lebih banyak masalah akademik Mbak, dibanding masalah karakteristik .. " "Ehm ... ananda lebih dekat pada ayah atau ibunya Pak, .. ?" "Lebih dekat pada saya Mbak, ..."
"Apakah menurut Bapak, ananda introvert ?" "Insya Allah tidak Mbak, .. Dia sering cerita apa-apa yang baru dialami di sekolah, bahkan dengan sangat antusias. Kadang saya merasa kurang bisa memberi respon sebanyak yang seharusnya." "Kalau punya masalah Pak, .. ?" "Ya, ... pada kami berdua Mbak, .. dia sharing dan curhat, hanya kadang tidak dalam saat yang bersamaan, .. " "Pernah ananda marah hingga mutung Pak, .. ? Dan bagaimana Bapak mengatasinya ?" "Eee.. pernah suatu ketika Mbak, .. saya merasa anak saya ini pingin sekali saya marah sekali, pingin saya kasari, dan setelah betul-betul saya kasari, dan ketika setelah itu saya perlakukan dia dengan lembut, halus dan penuh kasih sayang, nampak sekali pendar kebahagiaan luar biasa terpancar dari rona wajahnya." Sesaat selesai ucapan saya, saya lihat roman wajah Ustadzah ini nampak memancarkan keharuan dan sepertinya sempat merinding bulu romanya,.. meski belum memahami betul makna penuturan saya, yang karenanya saya tambahkan dengan deskripsi uraian lebih lanjut.

"Terus .. hobi ananda apa Pak ?" "Yang tertulis sich, ... membaca Mbak .." "Lho koq yang tertulis Pak ? Bacaan yang biasa dibaca apa Pak ?" "Ya,.. novel, kumpulan cerpen .. " "Komik juga Pak ?" "Iya ... Mbak terkadang ... " "Saya memang mencoba tanamkan agar Mbak Nuzi, anak saya ini agar suka membaca Mbak. Juga menulis seperti Ayahnya." "Punya diary Pak ?" "Wah, .. Ustadzah ini gimana sich,.. koq jauh sekali melencengnya pertanyaan. Habis bicara hobi koq tanya masalah penyakit diare ?", pikir saya dalam hati. "Ya pernah Mbak kadang-kadang, .. tapi paling diminumi teh pahit juga sudah sembuh Mbak .." "Maksud saya Buku Harian Pak ,.. " "Ooo .. saya kira diare mencret Mbak,.. Kalo itu memang pernah saya suruh Mbak,.. agar Mbak Nuzi punya catatan harian seperti Ayahnya ketika SMP dulu. Dan untuk menarik minat dan menumbuhkan hobinya ini, saya bacakan buku harian saya. Buku Jurnal bersampul batik, yang saya buat tabel berisi No, Hari Tanggal dan Kejadian." "Bapak masih menyimpannya ?" "Iya Mbak .. dan betapa anak saya tertawa geli dan terpingkal-pingkal mendengar kisah lucu dan polos saya ketika masih muda dulu. Saya juga dorong dia membuat BLOG, tapi sayangnya Blog dia diblokir sama Google. Saya dorong dia untuk menulis apa yang dilihat, didengar, dirasakan dan dialami untuk mengasah ketajaman menulisnya." "Menurut Bapak, apakah ananda siap sekolah di sini, dengan segala kepadatan aktifitas belajarnya, ibadahnya serta banyaknya peraturan yang harus ditaati Pak ?" "Insya Allah kalau masalah padatnya aktifitas, semoga dia bisa menyesuaikan Mbak, .. yang jelas selama ini Mbak Nuzi sekolah di Full Day  School yang pulang hingga jam 15.00. Tentang aturan, .. Insya Allah.. selama ini saya begitu banyak memberikan aturan-aturan pada anak saya Mbak, .. bahkan untuk hal-hal yang sangat sepele, seperti mengambil sesuatu dan tidak mengembalikan di tempatnya, maka saat itu juga langsung saya tegur dan saya minta dia meletakkan barang tersebut di tempat semula, serta hal-hal yang mungkin bagi sebagian orang itu adalah sesuatu yang remeh. Kadang saya juga berpikir, apa perlu hal-hal remeh temeh dan kecil seperti itu saya tekankan betul pada anak saya ?" "Sangat perlu Pak, .. ", sahut Ustadzah mendukung saya.

Dan wawancara yang hangat, akrab dan komunikatif itu pun berlangsung cukup lama, .. hingga akhirnya harus kami akhiri, .. dengan satu pertanyaan "Maaf Mbak, .. nama Mbak Ustadzah ini siapa ya, .. kalau saya boleh tahu ?" "Jujun Pak, ..", jawabnya mantap dan penuh self confidence.
Read more »

Selasa, 14 Februari 2012

Menarik Kembali Siswa Produk Gagal, Bisakah ?

Seorang dokter yang melakukan malapraktek, maka akibatnya secara langsung adalah pada pasien yang menjadi korban malaprakteknya. Demikian juga suatu perusahaan, ketika kemudian terbukti bahwa produk yang dihasilkan adalah produk cacat atau produk gagal, sebagai konsekuensi layanan dan tanggung jawab profesional dan moral, mereka akan dan bisa menarik kembali produk cacat tersebut, meski sudah terlanjur beredar di seluruh penjuru dunia. (Nissan tarik ratusan ribu produknya di seluruh dunia)

Akan tetapi Bapak/Ibu sekalian, ketika kita sebagai Guru, sebagai Pendidik melakukan mala ajar atau mala didik, pada siswa kita dengan menanamkan suatu konsep yang salah tentang teori tertentu atau yang lebih parah jika kesalahan itu menyangkut konsep norma, perilaku, atau memberi contoh yang tidak baik yang pada akhirnya konsep dan contoh perilaku salah, yang tidak membangun karakter tapi justeru meruntuhkannya tersebut kemudian diaplikasikan dalam kehidupan sehari-hari, maka yang terjadi adalah hal tersebut tidak hanya dialami atau menyangkut satu atau dua anak, tetapi bisa ratusan bahkan ribuan anak didik kita. Dan untuk produk cacat yang kita hasilkan itu, tentu kita tidak bisa menarik dari peredaran. Bahkan sekedar merevisi saja kita sangat kesulitan.

Bapak Ibu sekalian, kita adalah pendidik, kita adalah contoh dan teladan nyata bagi anak didik kita. Karena itulah, mari kita beri anak didik kita teladan yang baik. Bagaimana motivasi dan semangat belajar siswa kita bisa menyala dan menggelora, bila kita tidak memberi teladan dengan etos, semangat dan motivasi kerja yang tinggi ? Bagaimana kedisiplinan siswa akan terwujud bila kita tidak memberikan contoh teladan untuk itu semua ? Jika ketika bel tanda masuk berbunyi, kita baru masuk kelas 15 menit atau 20 menit kemudian setelahnya, bagaimana kita bisa berharap anak-anak akan tertib, disiplin dan tepat waktu ?
Bila kita abai dengan penampilan kita, dengan disiplin mengenakan seragam kita, dengan dalih apapun, apakah tidak berseragam nya karena melanjutkan memakai baju yang kemaren karena baru 1 hari dipakai, atau karena lupa, atau terlebih-2 karena disengaja tidak berseragam, maka tentu akan sulit bagi kita menertibkan mereka dalam hal berseragam.
Bila ketika menjadi pengawas ujian, kemudian karena rasa iba kita, lantas kita memberi kelonggaran dan kesempatan pada para siswa peserta ujian untuk saling kerja sama, maka bagaimana bisa kita menanamkan sikap dan jiwa kemandirian dan tanggung jawab pada siswa kita ? Terlebih seperti kasus mencontek massal di ujian nasional tahun kemaren,  maka bagaimana bisa kita mengajarkan kejujuran kepada mereka ? Alih-alih mengajarkan kejujuran, justru kita memberi contoh konkrit dan sangat membekas dalam ingatan mereka, yang tak akan terlupakan seumur hidupnya. Ajaran tentang nilai kecurangan, ketidakjujuran. Bahwa ternyata curang itu diperbolehkan, .. buktinya hal itu yang dicontohkan oleh gurunya. Lebih parahnya jika ajaran ini kemudian disampaikan pada anak cucunya.

Bapak Ibu Guru sekalian, .. saat ini pemerintah dengan segala daya dan upayanya telah berusaha dan itu telah diwujudkan, meningkatkan gaji dan kesejahteraan kita, para guru. Karena itu, merupakan suatu keniscayaan bagi kita untuk mewujudkan rasa terima kasih pada pemerintah, dan khususnya rasa syukur yang mendalam atas rahmat ini, kehadirat Allah SWT, dengan kinerja dan kesungguhan kita dalam bekerja, dalam membimbing dan mendidik anak didik kita, siswa-siswa kita. Kita tidak perlu mengorientasikan pengawasan kinerja kita pada Kepala Sekolah, Pengawas, atau Pejabat di atas kita, karena sejatinya bukanlah mereka yang memberikan amanat jabatan (guru) ini pada kita, akan tetapi Allah lah yang memberikan amanat ini. Karena itu tentu Allah juga yang akan menuntut pertanggungjawaban dari amanat kita ini. Kita pun juga ingin dan sangat berharap, agar rejeki yang kita terima tiap tanggal 1 di setiap awal bulan ini berkah dan membawa keberkahan pada kita, pada keluarga kita. Dan Insya Allah, salah satu kriteria keberkahan itu adalah manakala kita melaksanakan amanah dengan sebaik-baiknya. Dan satu lagi Bapak Ibu, dalam konsep Islam ajaran agama kita, ketika kita menyampaikan dan mengajak melakukan kebaikan pada orang lain, maka ketika kemudian orang tersebut mengamalkan ajaran & ajakan kita, maka pada ketika itu pula mengalirlah pahala pada kita. Sekali pun kita telah meninggal dunia. Dan ini adalah investasi akherat yang luar biasa.

Demikian kurang lebih antara lain yang disampaikan oleh Bapak Pengawas SMP Kabupaten dalam pengarahan dan pencerahannya, setelah mengadakan supervisi terhadap Bapak Ibu Guru dalam proses pembelajaran di kelas, yang kegiatan supervisinya tidak terjadwal. Yang karenanya segala sesuatunya bukanlah hasil dari persiapan-persiapan yang telah dilakukan secara sangat matang jauh sebelumnya, .. tetapi apa adanya.


Read more »

Kamis, 09 Februari 2012

TELEVISI, SI KOTAK (SETAN) AJAIB

    Berkembang pesatnya teknologi serta dibuka lebarnya pintu kebebasan termasuk dalam bidang pertelevisian, menjadikan TVRI tak lagi menjadi satu-satunya stasiun televisi di negeri ini. Puluhan stasiun televisi swasta bermunculan dengan beraneka menu acara yang beraneka ragam, serta berjubelnya acara iklan yang selalu mewarnai setiap acara. Demikian juga dengan durasi penyiaran, tak lagi ada batasan alias 24 jam nonstop. Terlebih di era menjamurnya parabola. Maraknya stasiun televisi dengan berbagai acaranya, jika kita amati ternyata begitu banyak yang tidak mengandung unsur mendidik atau memberikan teladan yang baik, bahkan cenderung konyol, remeh temeh, merusak mental dan karakter. Belum lagi acara-acara hiburan yang penampilan artis atau penyanyinya begitu seronok, mengarah pada pornografi dan porno aksi, ditunjang dengan sempurna tema lagu yang dibawakan, yang tanpa muatan mendidik, mengacu pada norma, bahkan menjurus pada aksi seks, porno, dan merendahkan martabat kaum wanita. Kelebihan televisi yang sekaligus melibatkan banyak indera kita dalam menikmatinya, membuat televisi menjadi guru yang hebat dalam mendidik anak. Betapa anak dengan sangat mudah memahami, menghapal bahkan meniru hal-hal yang ada di acara televisi, termasuk acara yang tidak seharusnya dikonsumsi anak, bahkan cenderung berbahaya bila dikonsumsi oleh mereka. Dan ini juga menjadi salah satu potensi besar dampak negatif televisi.
     Kemampuan luar biasa media televisi lainnya dengan acaranya adalah kemampuan membius, melenakan dan membuat ketagihan pemirsanya. Berbagai acara yang ditayangkan, dikemas dan disetting secara sekuel, berkelanjutan sehingga menimbulkan efek addict atau ketagihan. Acara yang ditayangkan tak lagi memerhatikan jam tayang, membuat siapa saja, kapan pun bisa menikmati acara televisi. Terlebih acara-acara live (langsung) dari luar negeri yang beda beberapa jam waktunya dengan negara kita, seringkali membuat acara-acara tersebut harus dinikmati pada jam-jam malam atau dini hari. Acara seperti sepakbola yang sangat digemari, tak menyurutkan niat siswa SMP atau bahkan SD sekalipun, yang terjangkit penyakit GIBOL untuk melihatnya meski harus menunggu hingga jam 2 atau jam 3 dini hari. Sehingga tak jarang muncul banyak kasus siswa terlambat datang ke sekolah karena bangun kesiangan atau tertidur pulas saat diajar di kelas akibat menonton sepakbola hingga dini hari,. Juga acara live tak tau diri yang digelar dan dihadiri pelajar pada saat-saat jam sekolah. Betul betul tidak habis pikir untuk bisa dimengerti alasan cerdas pengelola televisi memilih jam tayang seperti ini. Tak terbatasnya jam tayang televisi sepertinya membuat perusahaan pertelevisian kebingungan dan kehabisan acara-acara terutama yang bermutu, untuk menjubalkan di acara tayangannya, maka tak heran muncul banyak acara yang tak bermutu, remeh temeh dan konyol, tetapi menelan biaya milyardan ..
Akan halnya remaja, merupakan segmen pasar luar biasa bagi acara-acara televisi. Sekian persen acara televisi  diarahkan pada remaja, yang mereka sadari betul bahwa di masa ini remaja adalah individu yang sangat besar rasa ingin tahunya sekaligus besar keinginannya untuk mencoba hal-hal baru. Remaja yang seharusnya banyak waktunya digunakan untuk belajar, menuntut ilmu, berkarya dengan hal-hal positif, menjadi banyak tersita waktunya akibat terlalu banyak menonton televisi. Ya, .. mereka bisa sangat terlena dengan ini semua. Tak terasa waktu berjam-jam telah dihabiskan di depan layar televisi, dengan beralih dari satu acara di satu stasiun televisi ke acara lain di stasiun televisi yang lain. Mereka bahkan berani mempertaruhkan acara televisi kegemarannya dengan meninggalkan kewajibannya pada Allah (sholat), dengan dosa yang harus timbul akibat berani melawan orang tua akibat bersitegang dengan beliau, dengan hukuman di sekolah akibat tidak disiplin masuk sekolah, atau karena alpa tidak mengerjakan PR dan sebagainya. Televisi juga sangat berperan dalam mengkampanyekan suatu perayaan yang tidak jarang sangat bertolak belakang dengan budaya, adat, terlebih ajaran Islam. Salah satu contoh di bulan Pebruari ini, pasti semua stasiun televisi akan gencar menyiarkan valentine day, satu budaya barat yang sarat dengan zina dan maksiat, tapi sangat digandrungi remaja-remaja sesat negeri ini yang sok tak mau ketinggalan budaya barat. Selain dampak negatif acara televisi seperti dideskripsikan diatas, berikut adalah dampak yang lain :
1.  Membuat lupa waktu, bila seseorang telah menonton televisi, mereka akan merasa malas untuk melakukan pekerjaan lain, terutama belajar. Waktu seolah berjalan begitu sangat cepat ketika berada di depan televisi. Sehingga banyak pekerjaan terbengkalai karenanya.
2.  Banyaknya acara yang tidak mendidik bisa mempengaruhi kejiwaan anak atau remaja. Acara kekerasan, adegan sex, cabul dan seronok, sinetron yang menampilkan bagaimana dialog seorang anak dengan orang tuanya yang sangat jauh dari etika dan moral, serta nilai agama, bisa menjadi benih subur bagi penghancuran karakter remaja, bila setiap waktu mereka dijejali secara sistematis dengan acara-acara tersebut. Belum lagi ratusan sinetron remaja murahan yang mengambil setting sekolah (SMP/SMA) yang penuh nuansa asmara, pergaulan bebas, dan penampilan yang jauh dari penampilan siswa seharusnya, didukung oleh tema yang sama sekali tak bermutu.
3. Meningkatnya sifat konsumtif akibat berjejalnya iklan dari produk-produk yang tidak penting dan dibutuhkan. Penyajian iklan yang gencar, berulang-ulang dan sangat persuasif, sangat memungkinkan masyarakat membeli barang bukan karena keperluan, tetapi karena prestise dan sekedar mencoba. Maka jadilah mereka korban iklan/reklame.
4.  Menjadi pemalas. Orang yang menonton televisi berlebihan dan terus menerus, umumnya akan menjadi pemalas karena badannya tidak banyak bergerak dan hanya duduk diam atau tidur-tiduran di depan televisi. Jika seseorang selalu dalam posisi seperti itu setiap hari dan dalam waktu yang cukup lama, maka tubuh tidak akan terbiasa bekerja berat, akibatnya adalah tubuh akan menjadi lemah atau lemas.
Melihat fakta dampak negatif televisi yang demikian dahsyat, meski sebenarnya dampak positifnya tetaplah ada, maka kita sebagai orang tua sekaligus pendidik bagi siswa dan juga anak kita sendiri, haruslah mempunyai langkah-langkah jitu dalam membentengi anak-anak kita, generasi penerus negeri ini dari akibat negatif acara televisi. Rasanya terlalu berlebihan bahkan suatu yang musykil jika kita menyandarkan harapan kita untuk membendung dampak negatif acara televisi ini ke pundak pemerintah, karena sejatinya menjamurnya televisi dan acaranya dengan berbagai dampak negatif yang ditimbulkannya ini tak luput dari kebijakan permisif pemerintah yang tidak terlalu berpihak pada norma, dan pembentukan karakter anak bangsa saat ini. Lalu apa selanjutnya yang harus kita lakukan untuk membentengi, untuk mengurangi dampak negatif acara televisi bagi generasi muda, anak-anak kita ? Beberapa langkah ini mungkin bisa kita terapkan :
1.    Mendampingi putra-putri kita saat menonton televisi. memberi pengertian tentang sisi negatif dan positif tayangan yang kita tonton.
2.    Gerakan Mati TV dalam jam-jam tertentu. Di beberapa daerah, kepala daerah atau walikota ada yang telah menerapkan gerakan ini. Tujuannya untuk membatasi jam melihat tayangan televisi terutama pada jam atau waktu anak belajar.
3.    Gerakan "No TV at all" Beberapa keluarga, yang sangat takut akan ketidakmampuan memenej acara menonton televisi di rumah, akhirnya mengambil langkah frontal dengan sama sekali meniadakan televisi di rumah. Apakah mereka ini tak takut menjadi kuper, tidak melek informasi ? Tentu tidak, karena televisi hanyalah salah satu sumber informasi, di antara sekian banyak sumber informasi dan hiburan.
Akhirnya marilah kita berharap semoga generasi kita mendatang menjadi generasi yang cerdas dan pandai menghargai waktu dan memanfaatkannya, selalu bersandar pada prinsip, mereka yang akan menjadi pewaris surga salah satu kriteria setelah kriteria beriman kepada Allah SWT adalah, “yang menjauhi dari perkara-perkara yang tiada guna” (QS.Al-Mukminun:3)  (Baca Artikel Bagus tentang TV dari majalah Hidayatullah)
Read more »

Minggu, 08 Januari 2012

Reuni Tiga Generasi

Bermula dari keinginan mulia teman-2 pada tahun 2003 saat pertemuan alumni Mahasiswa Bimbingan Konseling IKIP Malang tahun 1988, yang biasa disebut GCO '88, yang tidak aku hadiri. Serta dukungan penuh budi baik Ketua Angkatan yang kini telah sukses luar biasa di luar jalur Konselor, Miftahussurur. Setelah proses panjang dan melelahkan dari panitia yang dipandegani Dwi Basuki Mahmud (Lentho), jadilah tanggal 3-4 Januari 2012 sebagai saat monumental, karena bertemunya empat angkatan ('88, 89', 90' plus '91) dalam satu acara silaturahim di Hotel Arum Dalu Kota Batu. Seluruh akomodasi, konsumsi bahkan transportasi bagi teman luar kota yang menggunakan angkutan umum, difasilitasi kendaraan jemput di masing-masing terminal.

Dihadiri Ketua Jurusan Bp. Triyono, dan Sekretaris Jurusan Ibu Ella Faridati Zein, menambah suasana reuni menjadi hidup, bermakna dan penuh memori.
Ketika acara santai, ketika acara saling mengingat dan mengingatkan saat-saat kuliah dan di luar perkuliahan, saat-saat penuh kenangan, suasana menjadi semakin gayeng,.. Sungguh tak nampak perbedaan antara ketika kita saat itu dan saat ini. Rasa yang terpatri di hati ini, sungguh tak ada beda dengan saat itu. Tak ada dinding penghalang baik berupa strata, ataupun tingkat kesuksesan. Kami merasakannya bagai mengulang masa-masa lalu itu kini.

Hanya sayangnya, .. ketika topik-topik tak lagi netral,.. atau ketika topik netral tak lagi menarik, maka yang menjadi topik adalah kelemahan, kekurangan, dan kekonyolan sesama. Sungguh sangat membuat diri ini prihatin, ketika salah satu teman harus menjadi obyek gurauan. Meski dia menanggapi dengan senyum, saya tahu pasti raut wajahnya tak bisa menyembunyikan ketidak berkenan hatinya. Sungguh sangat aku sayangkan, ketika seorang teman sudah dengan susah payah dan dengan pengorbanan yang cukup besar, harus mengatakan yang tidak semestinya kepada suaminya perihal tujuan kepergiannya hari ini yang sebenarnya, ternyata ketika dia hadir harus mendapatkan respon yang saya yakin sangat tidak diharapkannya. Hingga di rekaman suara yang saya buat, saya beri nama file "..... jadi obyek". Dan hal ini pun masih berlanjut ketika di acara yang sebenarnya cukup sakral yakni acara Tausyiah, dalam rangka menghindari "loose the word" nya, Pak Ustadz terpaksa menggunakan jurus-2 yang kurang arif ini. Tapi overall semuanya berjalan bagus, demikian juga dengan materi-materi yang disampaikan oleh Bapak Ustadz. Mengingatkan arti dan tujuan hidup yang hakiki.

Kegiatan yang semestinya berlangsung 2 hari, hanya mampu aku ikuti satu hari, karena di hari kedua reuni, aku harus mengantar istri anak dan keponakan menghadiri pelantikan Dokter dari adik istriku.
Terima kasih Ableh, Lentho yang telah mengantarkan aku ke Arjosari hingga aku tak terlambat ke Surabaya. Terima kasih Nanang yang telah meminjami Xenia adiknya untuk mengantarkan aku. Budi baik kalian niscaya dibalas Allah.

Dan lebih dari segalanya, pertemuan itu betul-2 menyatukan hati kami, setelah sekian puluh tahun berpisah. Dan ada fenomena yang mampu membuat diri ini memiliki kepercayaan diri yang lebih tinggi. Sesuatu yang tak bisa diungkap di sini. Karena sejatinya ia hanya bisa dirasakan di dalam hati, di dalam jiwa.
Alhamdulillah, ... terima kasih Allah, telah Engkau buka hati saudaraku Miftah, untuk memiliki niat menyatukan, mempertemukan kami, ... meski tak semua bisa menghadiri, .. karena udzur mereka, atau karena memang pasti tak dapat menghadiri, karena Engkau telah memanggil untuk hadir ke haribaan-Mu Ya Allah. Selamat jalan saudaraku Ahmad Zawawi, Siti Mardiana, ...
Read more »

Sabtu, 07 Januari 2012

Tenangnya Menyontek ...

Begitu selesai membagikan lembar soal dan lembar jawaban, tak langsung aku menulis Berita Acara dan mengisi nomor dan nama peserta di lembar daftar hadir, seperti biasanya.
Rasa iseng dan ingin tahu lebih menggelitik untuk melihat suasana ujian di ruang sebelah. Dari sebuah lubang berukuran 30 cm x 14,5 cm di pintu tripleks yang menyekat dua ruangan, terlihat adegan tidak senonoh, he he he, .. adegan yang mencoreng rasa percaya diri, mandiri dan kejujuran. Yang ternyata merupakan fenomena lumrah yang menghiasi atmosfir ujian umumnya.
Di bangku baris ketiga dari belakang, seorang siswa laki-laki dengan rasa aman dan percaya diri yang tinggi membuka buku yang sengaja diletakkan secara terbuka di laci mejanya, sambil sesekali matanya melihat ke arah meja pengawas, beralih bergantian ke arah lembar soal dan buku contekannya. Beberapa menit saya tinggalkan pandangan dari lubang di pintu, untuk kembali melihat perkembangan berikutnya, merasa posisinya sangat aman dari pantauan pengawas, yang kulihat sekilas sedang asyik dengan koran bacaannya, seorang siswi yang duduk persis di belakang siswa pencontek tadi, juga dengan rasa percaya diri yang sangat tinggi, tanpa terlihat kaku dan takut, mengeluarkan LKS yang sudah dipersiapkan dalam posisi terbuka, menariknya dari laci bangku, meletakkannya di atas paha dan membaca atau tepatnya mencari-cari jawaban dari soal yang ditanyakan.


Dan ketika pengawas ruang atas info yang saya sampaikan akhirnya menyita media contekan, tanpa ada sanksi apapun kecuali membuat catatan kecil di Berita Acara, maka sang siswa dan siswi dengan senyum ringan dan lebarnya seperti tak ada beban apapun, malu, takut, mengembang dari bibir mereka. Menyesal ? Malu ? Sepertinya ekspresi wajah yang mengguratkan suasana hati yang demikian, tak nampak di wajah mereka.

Jadi ingat ekspresi wajah penjahat, eh pejabat negeri ini yang terjerat kasus memalukan, memuakkan dan menderitakan rakyat banyak, yang sering muncul di layar-layar TV itu, .. Nothing to lose ... begitulah ... Dan ternyata inilah satu dari tempat embrio itu semua. Dan ternyata inilah miniatur gambaran carut marut kehidupan yang menunjukkan mulai menipisnya akhlak & karakter anak negeri ini.
Read more »

Arti sebuah Tulodho

Pagi itu, sebelum jam ujian dimulai, di pelataran sekolah, empat siswa berbaris rapi di depan Bapak Head Master. Keempat siswa tersebut tidak berseragam sebagaimana seharusnya. Baju atas batik sudah sesuai, tapi celana tidak sesuai. Jadi jika ditotal 50% siswa tersebut tidak berseragam. Beberapa pengarahan & motivasi diberikan oleh beliau. Tidak cukup pengarahan, Bapak Head Master yang amat peduli pada kedisiplinan siswa ini pun memberikan sanksi siswa tidak diperkenankan mengikuti ujian di ruang ujian, melainkan mengerjakan soal ujian di ruang sekretariat. Pada saat yang hampir bersamaan, masih pada ketika Bapak Head Master "menangani" indisipliner 4 siswa tadi, seorang guru berlalu dengan kondisi tidak seragam 100%, artinya pakaian yang dikenakan tidak sesuai sama sekali dengan ketentuan seragam pada hari itu. Terbayangkah di benak siswa tadi pikiran "Lha dalah ... guru saya ini jauh lebih tidak seragam dari pada teman-temannya dibanding saya, kira-kira apa ya yang akan dilakukan Bapak Head Master kepada beliau ini ? Ditegurkah, .. ? Diberi pengarankah ? Atau, ... diberi sanksi ? Kira-kira sanksinya apa ya ?"

Dan ketika di siang harinya ada lagi guru yang tidak berseragam saya tanyakan dengan berseloroh, .. maka jawab beliau adalah .. "... saya sengaja koq Pak ... "
Nah lho, .... gimana ini ?
Sepertinya hal ini sepele dan kecil.
Ya, .... sebuah contoh keteladanan,....
Tapi bukankah seribu nasehat yang membuih bagai busa di samudra tidak akan pernah berarti dan bermakna ... tanpa TULODHO, tanpa teladan atau contoh .. ?
Read more »

Slide

Picture Talk More Slideshow: Anang’s trip to Kabupaten Nganjuk (near Kediri), Java, Indonesia was created by TripAdvisor. See another Kediri slideshow. Create a free slideshow with music from your travel photos.
Anang Dwijo Suryanto. Diberdayakan oleh Blogger.

 
Powered by Blogger